Selasa, 12 Februari 2013

Anemia Defisiensi Besi Pada Bayi dan Anak

Copas dari grup RFC
Penulis dr.Muckhlis
Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan  masalah defisiensi gizi tersering pada anak di seluruh dunia terutama di negara sedang berkembang, termasuk juga Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh penderita, adalah salah satu masalah gizi yang menonjol di Indonesia selain Kekurangan Kalori-Protein, Defisensi  Yodium dan vitamin A.
Secara epidemiologi, angka kejadian tertinggi ditemukan pada akhir masa bayi dan awal masa kanak-kanak diantaranya karena defisiensi besi saat kehamilan dan percepatan tumbuh masa kanak-kanak yang disertai  rendahnya asupan besi dari makanan atau karena penggunaan susu formula dengan kadar besi kurang. Ibu hamil yang mengalami kekurangan zat besi akan juga melahirkan bayi yang kekurangan cadangan zat besi.  Pada bayi normal , cadangan besi yang didapat dari ASI hanya  bertahan sampai 4-6 bulan, sehingga bayi memerlukan penambahan zat besi setelah itu. Selain itu ADB juga banyak ditemukan pada masa remaja akibat percepatan tumbuh, asupan besi yang tidak mencukupi dan diperberat oleh kehilangan darah akibat menstruasi pada remaja puteri. Data SKRT tahun 2007 menunjukkan prevalens ADB  pada anak balita di Indonesia sekitar 40-45%.  Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) terdahulu,  pada tahun 2001 menunjukkan prevalens ADB pada bayi 0-6 bulan, bayi 6-12 bulan, dan anak balita berturut-turut sebesar 61,3%, 64,8% dan 48,1%.

Apa fungsi zat besi ?
Zat besi dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin  yang berperan dalam penyimpanan dan pengangkutan oksigen. Fungsi yang tak kalah penting juga  adalah  peranannya dalam perkembangan sistim saraf  dalam 2 tahun pertama kehidupannya.  Zat besi  diperlukan dalam proses mielinisasi otak  (pembentukan selubung saraf), pembentukan neurotransmitter,  pembentukan dendrit saraf (dendritogenesis) dan metabolisme saraf lainnya. Selubung syaraf (mielin) berperan  penting dalam kecepatan berpikir anak, neurotransmitter berperan  penting dalam pengendalian emosi, pemusatan perhatian dan perilaku anak. Kekurangan besi sejak dalam kandungan sampai berumur dua tahun mengakibatkan anak mengalami hambatan dalam kemampuan berbagai aspek emosi, konsentrasi, perilaku dan kecerdasan.

Apa penyebab defisiensi zat besi ?
Secara umum anemia defisiensi besi disebabkan oleh 3  hal utama : kebutuhan yang meningkat secara fisiologis (pada usia 1 tahun pertama dan pada masa remaja), kurangnya zat besi yang diserap dan adanya perdarahan. Berikut penyebab  tersering defisiensi besi dengan melihat kelompok umur.
Bayi kurang dari 1 tahun : Cadangan besi kurang, a.l. karena bayi berat lahir rendah, prematuritas, lahir dari ibu yang mengalami anemia pada waktu hamil, lahir kembar, ASI ekslusif tanpa suplementasi besi, susu formula rendah besi dan pertumbuhan yang cepat.
Anak umur 1-2 tahun :  Asupan besi kurang akibat tidak mendapat makanan tambahan atau minum susu murni berlebih.  Lain-lain al : kebutuhan  yang meningkat karena infeksi berulang/kronis dan malabsorbsi.
Anak umur 2-5 tahun :  Asupan besi kurang karena jenis makanan kurang mengandung Fe jenis heme atau minum susu berlebihan. Lain-lain : kebutuhan meningkat karena infeksi berulang/kronis baik bakteri, virus ataupun parasit), kehilangan berlebihan akibat perdarahan (divertikulum Meckel/poliposis dsb).
Anak umur 5 tahun-remaja : Kehilangan berlebihan akibat perdarahan (sering karena cacingan) dan  menstruasi berlebihan pada remaja puteri.

Apa akibatnya kalau seorang anak kekurangan zat besi ?
Seperti yang disebutkan sebelumnya kekurangan zat besi dapat mengakibatkan  gangguan  fungsi kognitif, konsentrasi, tingkah laku dan pertumbuhan seorang bayi/anak.  Besi  juga merupakan sumber energi bagi otot sehingga mempengaruhi ketahanan fisik dan kemampuan bekerja terutama pada remaja.  Bila kekurangan zat besi terjadi pada masa kehamilan maka akan meningkatkan risiko kehamilan/kelahiran serta kematian  bayi.

Pemeriksaan apa yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis ADB ?
Dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium meliputi : pemeriksaan darah rutin, morfologi darah tepi (pemeriksaan hapusan darah), pemeriksaan status besi (Fe serum, Total Iron Banding Capacity, saturasi transferin, FEP, Feritin). Bila dibutuhkan dilakukan pemeriksaan apus sumsum tulang. Dari hasil pemeriksaan yang didapat dokter akan menilai tahapan anemia defisiensi seseorang.

Gejala apa yang dapat terjadi bila  bayi/anak kekurangan zat besi ?
Gejala yang paling sering ditemukan adalah pucat yang berlangsung lama (kronis) dan dapat ditemukan gejala komplikasi seperti :  lemas,  tidak nafsu makan, rewel, mudah lelah, mudah infeksi karena menurunnya daya tahan tubuh terhadap infeksi, ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh normal,  gangguan prestasi belajar dan  gangguan perilaku.

Apa penanganan anak dengan ADB ?
Penanganan utama adalah mengatasi faktor penyebab. Setelah faktor penyebab diatasi, dilakukan pemberian preparat besi oral berupa besi elemental dengan dosis 3 mg/kgBB sebelum makan atau 5 mg/kgBB setelah makan dibagi dalam 2 dosis. Diberikan sampai 2-3 bulan sejak Hb kembali normal,
Pemberian besi peroral diikuti dengan pemberian vitamin C 2 X 50 mg/hari untuk meningkatkan absorbsi besi dan juga pemberian asam folat 2 X 5-10 mg/hari untuk meningkatkan aktifitas eritropoiesis
Besi dapat juga diberikan parenteral atau melalui suntikan dengan indikasi adanya malabsorbsi, membutuhkan kenaikan kadar besi yang cepat (pada pasien yang menjalani dialisis yang memerlukan eritropoetin) dan intoleransi terhadap preparat besi oral

Apa yang harus diperhatikan ketika anak sedang mendapat terapi zat besi ?
Hindari makanan yang menghambat absorpsi besi (teh, susu murni, kuning telur, serat) dan obat seperti antasida dan kloramfenikol. Banyak minum untuk mencegah terjadinya konstipasi (efek samping pemberian preparat besi)

Apa upaya pencegahan yang dilakukan untuk mengurangi/menekan ADB  ?
1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat  tentang gizi dan jenis makanan yang mengandung kadar besi yang tinggi dan absorpsi yang lebih baik misalnya ikan, hati dan daging. Kandungan besi dalam ASI lebih rendah dibandingkan dengan susu sapi tetapi penyerapan/bioavailabilitasnya lebih tinggi (50%). Oleh karena itu pemberian ASI ekslusif perlu digalakkan dengan pemberian suplementasi besi dan makanan tambahan sesuai usia.
2. Penyuluhan mengenai kebersihan lingkungan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi bakteri/infestasi parasit sebagai salah satu penyebab defisiensi besi.
3. Suplementasi besi :
Diberikan pada semua golongan umur dimulai sejak bayi hingga remaja. Pada tahun 2011 Satgas ADB yang dibentuk oleh IDAI untuk menurunkan angka kejadian ADB  telah mengeluarkan rekomendasi suplementasi besi pada bayi dan anak yang mengacu  pada pedoman WHO mengenai suplementasi besi untuk negara berkembang ditambah dengan beberapa sumber lain. Rekomendasi tsb menyebutkan bahwa suplementasi besi diberikan kepada semua anak , dengan prioritas usia balita (0-5 tahun), terutama pada usia 0-2 tahun.  Untuk kelompok bayi berat lahir rendah (BBLR)  dan prematur, suplementasi besi dapat diberikan mulai usia 1 bulan dengan dosis 3 mg/kgBB/hari diberikan satu kali sehari, diberikan sampai  usia  24  bulan. Pada kelompok bayi cukup bulan, suplementasi dapat mulai diberikan pada usia 4 bulan sampai 24 bulan dengan dosis 2 mg/kgbb/hari.  Pada bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan dan kemudian tidak mendapat besi secara adekuat dari makanan, dianjurkan mendapat suplementasi mulai usia 4 bulan sampai bayi mendapat makanan tambahan yang mengandung cukup besi. Dalam rekomendasi tsb diatur juga pemberian suplementasi besi pada anak 2-5 tahun, diatas 5 tahun sampai dengan 12 tahun (usia sekolah) dan 12-18 tahun (usia remaja).  Untuk kelompok anak (2-5 tahun), usia sekolah dan usia remaja, suplementasi diberikan 2 x seminggu selama 3 bulan berturut-turut, setiap tahunnya.

Rekomendasi IDAI 2011  memberikan beberapa kesimpulan antara lain :
  1. Suplementasi diberikan kepada semua anak dengan prioritas usia balita (0-5tahun), terutama usia 0-2 tahun.
  2. Saat ini belum perlu dilakukan uji tapis (skrining) defisiensi besi secara massal.
  3. Pemeriksaan kadar Hb dilakukan mulai usia 2 tahun dan selanjutnya setiap tahun sampai usia remaja. Bila ditemukan anemia bila perlu dirujuk.
  4. Pemerintah harus membuat kebijakan mengenai penyediaan preparat besi dan alat laboratorium untuk pemeriksaan status besi.

0 comments:

Posting Komentar

Hai.... Terima kasih sudah membaca tulisan saya