Selasa, 12 Februari 2013

Untuk yang masih meragu...(penjelasan sekitar isyu kontroversi masalah vaksinasi)



  • Bahaya Imunisasi ? (telaah tahap 1)
    Dr Julian Sunan.

    Jujur saja, saya tergelitik untuk menulis lagi gara-gara kejadian kemarin saat jaga Pameran Pembangunan & Potensi Daerah Kabupaten Sleman, dimana saya diminta menjadi Sales Promotion Boy (SPB, oh yes, I’m still a boy!) pada stand Dinas Kesehatan. Saat itu ada mbak-mbak PNS dari stand sebelah yang bertanya-tanya tentang imunisasi dan betapa gerakan anti imunisasi sudah merebak di internet, bahkan ada pula seminar-seminarnya di institusi perguruan tinggi, dan ngga tanggung-tanggung, pembicaranya bahkan ada yang dokter pula. Lalu, penasaran, sore tadi saya membuka Google dan mencoba mencari situs-situs anti imunisasi dan vaksinasi tersebut, dan hasilnya.. hampir rahang bawah saya copot karena mangap terlalu lebar: betapa banyaknya! jauh lebih banyak daripada situs yang mempromosikan imunisasi. Saya baca dan baca, rata-rata isinya sama, artikel yang sama, dicopy paste berulang-ulang dari satu situs ke situs yang lain dari satu blog ke blog yang lain. Yang membuat saya tambah mangap dan tergeleng-geleng, artikel tersebut seolah-olah benar-benar evidence based, mencatut nama ahli-ahli, penelitian-penelitian, data dan angka, meyakinkan nian. Coba saya cungkil separuh kesini (dari salah satu artikel di blog penentang vaksin anak negeri yang populer di Google, http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/ )

    ...Mengungkap Konspirasi Imunisasi dan Bahaya Vaksin
    Imunisasi dan Konspirasi di dalamnya.
    Jika kita merunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, kita dapat menemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia, dan mereka adalah bagian dari Zionisme Internasional.
    Kenyataannya, mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya :
    The UN’s WHO was established by the Rockefeller family’s foundation in 1948 – the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government’s National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation’s Public Health Service (PHS).
    (~ Dr. Leonard Horowitz dalam “WHO Issues H1N1 Swine Flu Propaganda”)

     Wah hebat sekali ya penguasaan mereka pada lembaga-lembaga strategis.
    Dilihat dari latar belakang WHO, jelas bahwa vaksinasi modern (atau kita menyebutnya imunisasi) adalah salah satu campur tangan (Baca : konspirasi) Zionisme dengan tujuan untuk menguasai dan memperbudak seluruh dunia dalam “New World Order” mereka.


    Apa Kata Para Ilmuwan Tentang Vaksinasi?
    “Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
    ~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerik



    "Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
    ~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University

    “Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
    ~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris


     “Ketika vaksin dinyatakan aman, keamanannya adalah istilah relatif yang tidak dapat diartikan secara umum”.
    ~ dr. Harris Coulter, pakar vaksin internasional.


     “Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
    ~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962.


     “Sebelum vaksinasi besar besaran 50 tahun yang lalu, di negara itu (Amerika) tidak terdapat wabah kanker, penyakit autoimun, dan kasus autisme.”
    ~ Neil Z. Miller, peneliti vaksin internasional.


     “Vaksin bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah anak-anak dan orang dewasa yang mengalami gangguan sistem imun dan syarat, hiperaktif, kelemahan daya ingat, asma, sindrom keletihan kronis, lupus, artritis reumatiod, sklerosis multiple, dan bahkan epilepsi. Bahkan AIDS yang tidak pernah dikenal dua dekade lalu, menjadi wabah di seluruh dunia saat ini.”
    ~ Barbara Loe Fisher, Presiden Pusat Informasi Vaksin Nasional Amerika

     “Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya.”
    ~ Dr. William Hay, dalam buku “Immunisation: The Reality behind the Myth”

    Dan masih banyak lagi pendapat ilmuwan yang lainnya.
    Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.

    =========================================================

    Stop !!! Ini baru separuh artikel pembuka. Cukup meyakinkan bukan? Sudah pernah baca?
    Ya, saya juga bukan ahli vaksin, bukan ahli imunisasi, yang juga sahih untuk menganalisis artikel di atas. Saya hanya dokter PNS muda di Puskesmas yang tidak begitu terpencil dari kota Yogyakarta untuk disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi setidaknya saya pernah belajar 6 tahun dan terus berlanjut hingga sekarang mengenai metode kedokteran. Dan selama masa belajar itu saya pernah (kalau tidak lupa) diajarkan tahap pertama dalam pembelajaran: mencari referensi yang sahih, tidak bias/tendens, valid dan reliable. Dan tahap pertama pembelajaran saya itulah yang akan sedikit saya bagikan pada anda, siapa tahu saya nanti beneran bisa dapat tanda jasa dari anda ;).

     1.     Leonard Horowitz
    Tentang Dr. Leonard Horowitz yang penulis sebutkan di atas: entah darimana ia dapat gelar DR. di depan namanya. Karakter ini dalam search google dapat anda temukan ratusan dalam situs anti imunisasi yang artikelnya dicopy paste itu. Lihat di situs asing, ia terlibat dalam situs-situs yang menolak pengetahuan & teknologi modern. Yang paling jelas kalau di follow up, ternyata si Horowitz ini sangat berperan dalam situs FluScam.com, situs yang benar-benar membolak-balikkan fakta pengobatan modern, menolak imunisasi, yang ujung-ujungnya menawarkan pengobatan alternatif. Silakan buka situsnya, dan link situs lainnya, Leonard Horowitz ini ternyata populer juga sebagai semacam penyembuh spiritual di Amrik sana. Dia bahkan menyebut dirinya seorang sakti, semacam mengaku nabi, bahkan mengklaim ada ‘malaikat’ menuntunnya, secara tertulis pada bukunya Walking on Water di tahun 2006. Tuntunannya semacam ini:

        5-steps you can take to prompt miraculous healings.
        The LOVE frequency to radiate affection and resolve troubled relationships.
        Key changes you can make to overcome self-defeating patterns to prosper in all ways.
        How to sustain and celebrate LOVE as a core creative force.
        Master the mystery of sex, love and your true male/female identity.
        Easily and inexpensively produce “holy water” critical for natural healing.
        The use of music, foods, language, prayer and faith to heal your life.
        The true meaning of your life.
        How to prosper, more than ever, by understanding the laws of nature, attraction, giving and receiving.

    Kaya judul-judul buku kacangan yang dijual 10ribuan. Pesan di dalamnya gampang, sudah bisa ditebak, lupakan teknologi, ciptakan penyembuhan dari diri sendiri (wow!). Dia akan menunjukkan gimana caranya, cukup bayar sekian dolar, via transfer di rekening bla-bla-bla. Buka saja FluScam.com dan ikutilah seluruh anjuran Kiai Dr. Leonard Horowitz, pasti manjur..


    2.     Dr. James Shannon
    Setelah dilacak-lacak tentang quote dan Dr. James R. Shannon mantan direktur National Health Institute (NIH), ternyata koneksi keduanya cuma ditemukan di situs-situs anti vaksinasi saja. Di situs anti vaksinasi asing kopiannya sebagai berikut “Dr. James R. Shannon, former director of the National Institute of Health reported in December, 2003 that “the only safe vaccine is one that is never used”.
    Memang ada mantan direktur NIH yang bernama Dr. James Augustine Shannon, lahir tahun 1904, tapi beliau telah meninggal tahun 1994 lalu di usia 89 tahun. Obituarinya bisa dilihat di http://www.nap.edu/readingroom.php?book=biomems&page=jshannon.html
    Sejauh ini belum ada berita yang mengabarkan Dr. James Augustine Shannon bangkit dari kubur, lalu mengganti nama tengahnya, dan kemudian di tahun 2003 berpidato “the only safe vaccine is one that is never used, dude!”. Ya, koneksinya cuma ketemu di situs-situs anti vaksinasi saja, yang semuanya menulis mantan direktur NIH Dr. James R. Shannon
    Mungkin ada direktur NIH bernama Shannon yang lain? sudahlah, coba cek di daftar direktur NIH http://www.nih.gov/about/almanac/historical/directors.htm
    Dengan kata lain, quote James Shannon yang dicopy paste berjuta kali itu cuma tipuan belaka

    3.     Richard Moskowitz
    Richard Moskowitz lahir pada tahun 1938, dan kuliah di Harvard (BA) dan New York University (MD). Setelah selesai sekolah kedokteran dia kemudian mengikuti 3 tahun studi pascasarjana di bidang Filsafat di University of Colorado. Dia mengambil magang di Rumah Sakit St. Anthony, Denver, dan telah mempelajari kedokteran keluarga sejak tahun 1967, serta (katanya) membantu 800 kali kasus kelahiran di rumah. Dengan latar belakang kedokteran oriental dan bentuk-bentuk penyembuhan alami, Dr Moskowitz belajar homeopati dengan George Vithoulkas di Yunani dan Rajan Sankaran (dan lain-lain, entahlah saya ngga kenal) di India.
    Dia telah mempraktekkan metode klasik tersebut secara eksklusif sejak 1974, dan telah mengajar secara luas pada mata pelajaran homeopati dan yang berkaitan dengannya (pengobatan alternatif). Silakan searching, di internet banyak nama dokter Richard Moskowitz, tapi yang dicuplik pendapatnya di situs-situs anti vaksinasi adalah dokter Moskowitz yang ahli homeopati ini. Jadi, sudah jelaslah ia adalah praktisi homeopati, sudah jelas bukan ahli vaksin atau imunisasi, dan tidak mewakili institusi Harvard University. Sudah jelas pula titik bias pendapatnya pada kasus imunisasi.

     4.     dr W. B. Clarke
    Aktor fiktif lain, siapa itu dr W. B. Clarke? yang katanya seorang dokter di Indiana di tahun 1900an (iya, tahun 1900, belum ada laptop dan FB saat itu; yang dikutip di atas sana sebagai ahli kanker dari Inggris? keliru mengutip kayaknya si mas). Orangnya saja sudah ngga jelas. Silahkan coba untuk menemukan biografinya dan artikel aslinya yang menyatakan "Cancer is essentially unknown prior to the obligation of smallpox vaccination was introduced. I had faced 200 cases of cancer, and none of those affected by cancer do not get vaccinated before”, anda hanya akan menemukan website-website komunitas anti-vaksin lain yang mengulang-ulang kutipan itu, lagi dan lagi, tanpa menunjukkan sumber dan artikel yang asli. Selain Dr W. B Clarke ahli geologi terkenal (itu lhoo, lihat di wiki), tidak ada ahli lain yang bernama W. B Clarke yang dapat anda akui quote dan artikel-artikelnya sebagai seorang dokter dan ahli kanker yang sahih. Tolong perhatikan bahwa http://www.whale.to/ yang merupakan sumber dari berbagai artikel anti vaksinasi adalah merupakan situs pengobatan alternatif, anda pasti tahu apa yang mereka selalu katakan tentang imunisasi

     5.     Harris L. Coulter, PhD
    Ya, Anda dapat menemukan ini di wiki: Harris L. Coulter, PhD (8 Oktober 1932 -) adalah seorang sejarawan medis dan dosen yang telah menerbitkan tulisan di berbagai bidang termasuk obat homeopati, kanker, dan apa yang dianggapnya sebagai bahaya vaksinasi. Coulter meraih gelar PhD pada 1969 dari Columbia University, NY, dalam disertasi berjudul “Political and Social Aspects of Nineteenth-Century Medicine in the United States: The Formation of the American Medical Association and its Struggle with the Homeopathic and Eclectic Physicians” dari disertasinya saja sudah terlihat menentang sisi medis. Coulter telah dianggap "sejarawan homeopati terkemuka akhir abad 20." Nah!

    Karya Coulter yang paling signifikan adalah empat jilid risalah tentang sejarah kedokteran Barat,  Divided Legacy: A History of the Schism in Medical Thought, yang memerinci dua jalur yang berbeda pada pemikiran dan praktek medis sejak zaman Hippocrates hingga saat ini : pendekatan rasional dan pendekatan empiris seperti yang diamati dalam sejarah filosofi.
    Coulter telah bertugas di berbagai panel penasihat medis, dan telah memberikan masukan tentang konflik antara American Medical Association (AMA) dan homeopati. Dari tahun 1965 sampai 1975, Coulter adalah direktur publikasi untuk American Foundation for Homeopathy, dan 1983-1989 ia menjabat di dewan editorial Journal of the American Institute of Homeopathy. Coulter juga anggota dewan penasehat dari Campaign Against Fraudulent Medical Research. Coulter fasih berbahasa Jerman, Perancis, Spanyol, Latin, Rusia, Hongaria, dan Serbo-Kroasia.
    Pandangan Coulter telah dikritik, misalnya tentang ide-idenya tentang bahaya vaksinasi. Yah, pendapat apa sih yang anda harapkan dari ahli homeopati mengenai imunisasi?

     6.     Bernard G. Greenberg, PhD
    Bagi anda yang tertarik, inilah referensi yang lengkap bagi seluruh dunia (hehe) untuk melihat (dan untuk menunjukkan bagaimana komunitas anti vaksin mendistorsi kebenaran) suatu bagian dari diskusi telah dipublikasikan dengan menutup keseluruhan isi diskusi, dengan tujuan pembohongan publik.
    Quote di atas dikutip dari diskusi panel yang berjudul "The Present Status of Polio Vaccines" dengan moderator: Herbert Ratner, MD, panelis:  Herald R. Cox, ScD, Bernard G. Greenberg, PhD, Herman Kleinman, MD, dan Paul Meier, PhD. Telah dipublikasikan di Illinois Medical Journal. Agustus, 1960. pp 84-93. (Diskusi Panel diedit dari transkrip yang dipresentasikan sebelum Section on Preventative Medicine and Public Health pada 120th Annual Meeting of the ISMS di Chicago, 26 Mei 1960.). Dapat dicari review diskusinya pada jurnal tersebut.
    Posisi Dr Greenberg tidak menyatakan bahwa vaksin polio tidak efektif, posisinya adalah bahwa itu belum ‘sangat’ efektif. Dia juga tidak membuat pernyataan bahwa vaksin tersebut berbahaya.
    Berikut adalah beberapa kutipan dari beliau tentang tren polio: "Without a doubt, the increasing trend has been reduced to some extent by the Salk vaccine."
    "However, any future substantial reduction in this trend will require a more potent vaccine, not simply vaccinating more people. If there were no other vaccine, complete vaccination of all susceptible persons in the population with the Salk vaccine would be justifiable." Potensitas (kekuatan) vaksin di sini yang dimaksudkan adalah fungsi untuk meningkatan jumlah antigen virus yang dilemahkan dalam vaksin Salk, atau menggunakan virus hidup seperti vaksin Sabin.

    "Today it may be a serious mistake to be ultraconservative in accepting the new live virus vaccines under the impression that there is no hurry because an almost equivalent immunizer exists in the Salk vaccine. A delay in accepting and promoting better vaccines will be a costly one." Greenberg mengatakan ini pada tahun 1960  (pada tahun 1961 vaksin monovalen Sabin mendapat lisensi). Dalam pernyataanya Dr Greenberg percaya vaksin Sabin adalah jawabannya, dan lebih baik dari vaksin Salk yang karena kendala teknis (virus propagasi dalam kultur sel) menghambat vaksin Salk untuk menjadi cukup kuat. Lihatlah, Greenberg tidak melarang vaksinasi kan?
    Di kemudian hari, virus tersebut diadaptasikan dengan kultur sel microsphere terus menerus dalam sel Vero hingga dapat menghasilkan 10^9 virus per ml - dan itulah yang digunakan dalam vaksin polio (IPV) hingga hari ini. Dengan kemampuan untuk menghasilkan sejumlah besar virus dalam kultur sejak awal tahun 1970an, dan dengan diberantasnya polio liar di Amerika Serikat, IPV mengantikan OPV pada tahun 2000 untuk meniadakan kasus langka dari perubahan patogenik kembali dari vaksin Sabin. Thanks to dr. Greenberg.

     7.     Neil Z. Miller & Barbara Loe Fisher
    Neil Z. Miller & Barbara Loe Fisher adalah promotor gerakan anti vaksin sejati, mereka meneliti (hingga mempublikasikan riset yang menunjukkan keburukan vaksin di jurnal ilmiah, meskipun penuh rekayasa) untuk komunitas anti vaksin, apakah anda berharap mereka akan berkomentar netral dan obyektif?. Coba anda memasukkan keyword vaksin di google, akan anda temukan situs di daftar teratas bernama "National Vaccine Information Center " (NVIC), seperti pusat informasi vaksin beneran ya, jangan salah, organisasi dan situs tersebut didirikan oleh Barbara Loe Fisher dan merupakan salah satu anti-vaksin kelompok tertua dan paling berpengaruh di AS, baru-baru ini bekerja sama dengan Joe Mercola untuk bekerjasama mempromosikan paham anti-vaksin. Maka kalau baca di situ dijamin artikel-artikelnya yang anti vaksin jauh lebih profesional daripada artikel yang di atas. Tapi ingat siapa pembuatnya, memang tujuannya kan ke arah sana.

    8.     William Howard Hay, MD
    Ada juga di wiki. Sang 'legendaris' William Howard Hay, MD (1866 - 1940)! adalah salah satu aktivis pengobatan alternatif ternama, terutama melalui diet. Awalnya dia memang seorang dokter, tertular penyakit Bright (atau jaman sekarang disebut sebagai nefritis – peradangan pada ginjal). Dengan jantung bengkak dan hampir mati, putus asa karena tidak tertolong dengan metode medis saat itu, Dr Hay mulai mencoba makan hanya makanan alami, (entah kenapa, beruntungnya) kondisinya membaik,  menciptakan program diet Hay kemudian hari dan menjadi seorang naturalis. Dia tidak pernah menulis Immunisation: The Reality behind the Myth, tapi kutipan di atas adalah bagian pidatonya di hadapan The Medical Freedom Society (komunitas pengobatan alternatif lain) pada tanggal 25 Juni 1937 (3 tahun sebelum meninggal beneran, sudah tua bangeet, bayangkan baru sampai di mana teknologi kita tahun itu) di Pocono, Pennsylvania. Anda dapat dengan mudah mencari pidato epiknya yang mencantumkan quote yang dikopi di atas, pidato yang menjadi semacam kitab suci bagi komunitas anti-vaksin dan pengobatan alternatif

    9.     “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”
    OMG, itu adalah kebohongan lain oleh komunitas anti vaksin! publikasi JAMA berjudul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”, pada tahun 20 Februari 1981 diambil secara sangat parsial dan sangat didistorsi. Baca keseluruhan artikel asli penelitian tersebut di PubMed pleaseeeee... anda pasti akan tertawa



    Itu hanya separuh pembahasan dari lelucon komunitas anti-vaksin. Banyak yang kemudian mencampuradukkan dengan dalil agama, silakan. Tapi ingat juga, karya komunitas anti vaksin yang anda campur adukkan asalnya juga dari mana. Lucu kan, bilang anti Amerika anti Yahudi, anti barat, tapi artikel dan penelitiannya yang memperkuat dalil ngopi juga dari sana. Harus terbuka juga, bagaimana bila ternyata para komunitas anti-vaksin tersebut justru yang berupaya melemahkan bangsa kita, justru berkebalikan dengan yang selama ini anda pikirkan. Pertanyaannya kemudian mudah, referensi sebenarnya gampang di cari, kalau memang ada bukti mari berdebat secara ilmiah, jangan langsung percaya sama artikel yang darimana entah kemana tujuannya.



    “Bahaya Imunisasi?” Telaah Tahap II
    Dr Julian Sunan.

    Tidak perlu seserius itu membacanya. Saya suka lelucon, itulah kenapa saya kembali menulis tentang “Bahaya Imunisasi?”.

    Artikel ini bertujuan untuk mengajak pembaca bersikap kritis dalam memahami salah satu artikel penolakan terhadap program imunisasi berjudul “Mengungkap Konspirasi Imunisasi dan Bahaya Vaksin” yang dimuat di http://un2kmu.wordpress.com/2010/04/19/mengungkap-konspirasi-imunisasi-dan-bahaya-vaksin/ . Telaah sederhana diharapkan dapat dilakukan oleh pembaca ketika membaca paparan data, pernyataan, maupun hipotesis yang diajukan dalam artikel penolakan imunisasi tersebut, maupun artikel-artikel yang lain.
    1. Rubella di .. Jerman???
    “Dan ternyata faktanya di Jerman para praktisi medis, mulai dokter hingga perawat, menolak adanya imunisasi campak. Penolakan itu diterbitkan dalam “Journal of the American Medical Association” (20 Februari 1981) yang berisi sebuah artikel dengan judul “Rubella Vaccine in Susceptible Hospital Employees, Poor Physician Participation”. Dalam artikel itu disebutkan bahwa jumlah partisipan terendah dalam imunisasi campak terjadi di kalangan praktisi medis di Jerman. Hal ini terjadi pada para pakar obstetrik, dan kadar terendah lain terjadi pada para pakar pediatrik. Kurang lebih 90% pakar obstetrik dan 66% parak pediatrik menolak suntikan vaksin rubella.”
    Ya, memang ada penelitian yang memiliki judul penelitian yang sama plek dengan yang tersebut di atas, dipublikasikan di JAMA pada tahun 1981. Namun benarkah penelitian Walter A. Orensteintersebut berisi bahwa para dokter dan perawat menolak imunisasi rubella seperti pernyataan paragraf di atas? mari kita baca sekedar abstrak asli dari penelitian tersebut, yang saya ambil dari http://jama.ama-assn.org/content/245/7/711. short :
    Walter A. Orenstein, MD; Peter N. R. Heseltine, MD; Susan J. LeGagnoux, RN, MPH; Bernard Portnoy, MD. Rubella Vaccine and Susceptible Hospital Employees : Poor Physician Participation. JAMA 1981;245:711-713
     “A serosurvey of 2,456 high-risk employees of the Los Angeles County-University of Southern California Medical Center showed that 345 (14%) were susceptible to rubella. Of 197 seronegative personnel followed up for participation in a vaccination program, 105 (53.3%) were vaccinated. However, only one of the 11 known susceptible obstetrician-gynecologists was vaccinated. Thirty-eight seronegative employees who were vaccinated with RA 27/3 rubella vaccine were queried four to six weeks after vaccination and compared with 32 unvaccinated seropositive control subjects. Although the reaction rate was 50% among vaccinees and 3% among control subjects, each vaccinee lost only an average of 0.2 workdays compared with 0.1 workdays for control subjects. The high rate of susceptibility to rubella among hospital employees supports the need for screening. Although vaccine reactions are common, they are generally mild. Means must be found to ensure greater employee acceptance of vaccine.

    Tentu saja, penelitian aslinya ternyata tidak menyimpulkan sedemikian. Penelitian Orenstein et al. tersebut memaparkan bahwa baru sedikit personel kesehatan di RS. University of Southern California, Los Angeles (ya, Los Angeles kayaknya sih ada di negara bagian California, Amerika, tidak di Jerman) yang melakukan vaksinasi rubella. Sejak Januari 1980 sebenarnya institusi kesehatan di California sudah menyarankan tenaga medis untuk melakukan vaksinasi rubella. Tahun 1982 terjadi outbreak rubella di Los Angeles, ternyata banyak tenaga medis tersebut turut tertular, laporan epidemiologis CDC yang dirilis 28 Januari 1983 dapat dibaca di Epidemiologic Notes and Reports Rubella in Hospitals - California, MMWR, January 28, 1983 / 32(3);37-9 (http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001229.htm). Tenaga medis, selain mereka sangat rentan tertular dari pasien-pasien rubella yang mereka rawat, juga berpotensi untuk menularkannya kemudian kepada pasien non-rubella yang juga mereka rawat. Itulah susahnya jadi tenaga medis. Tahukah anda, bahwa saya juga belum melakukan vaksinasi rubella? ya, vaksinasi rubella di Indonesia memang belum merupakan program imunisasi wajib bagi tenaga medis. Di Amerika, Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan Hospital Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC) telah mengeluarkan rekomendasi nasional  imunisasi untuk tenaga kesehatan, rekomendasi yang dirangkum oleh CDC tersebut, dirilis 26 Desember 1997, dapat dibaca diImmunization of Health-Care Workers: Recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) and the Hospital Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC), MMWR, December 26, 1997 / 46(RR-18);1-42 (http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00050577.htm), untuk melindungi tenaga medis, sekaligus melindungi pasien.

    2. Penyalahgunaan data VAERS
    “Di Amerika pada tahun 1991 – 1994 sebanyak 38.787 masalah kesehatan dilaporkan kepada Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA. Dari jumlah ini 45% terjadi pada hari vaksinasi, 20% pada hari berikutnya dan 93% dalam waktu 2 mgg setelah vaksinasi. Kematian biasanya terjadi di kalangan anak anak usia 1-3 bulan”
    Hmm, sepertinya ada yang menyalah gunakan data-data pada laporan VAERS untuk menghasut massa. Anda akan sering menemukan data-data (entah yang dicantum itu data beneran atau karangan) dari VAERS digunakan oleh para pegiat anti-imunisasi untuk membodohi orang awam, mirip dengan paragraf di atas.
    Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) adalah program surveilans keamanan vaksin nasional yang disponsori oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan Food and Drug Administration (FDA). VAERS merupakan program pengawasan keamanan pasca-pemasaran yang mengumpulkan informasi tentang kejadian penyerta (yang mungkin bisa merupakan efek samping) yang terjadi setelah pemberian vaksin berlisensi yang digunakan di Amerika Serikat. Laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) istilahnya kalau di Indonesia, ya, kita juga pemantauan imunisasi semacam VAERS. Penjelasan di bawah ini dapat anda temukan dari situs VAERS sendiri, silakan baca di http://vaers.hhs.gov/data/index
    Ketika mengevaluasi data dari VAERS, penting untuk dicatat bahwa untuk setiap peristiwa yang dilaporkan, tidak ada hubungan sebab-akibat yang telah dibentuk. VAERS mengumpulkan data pada setiap vaksinasi berikut kejadian yang menyertainya, baik itu kejadian yang kebetulan terjadi atau benar-benar disebabkan oleh vaksin. Laporan kejadian buruk kepada VAERS bukanlah merupakan dokumentasi bahwa vaksin menyebabkan kejadian tersebut.Data VAERS berisi baik kejadian ko-insiden saat/setelah vaksinasi, maupun kejadian yang benar-benar disebabkan oleh vaksinasi. Lebih dari 10 juta vaksin per tahun diberikan kepada anak-anak berusia kurang dari 1 tahun, biasanya antara usia 2 dan 6 bulan. Pada usia tersebut, bayi memang berisiko/rentan mengalami kejadian/kondisi medis tertentu, diantaranya demam tinggi, kejang, dan sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Beberapa bayi mengalami kejadian medis tersebut tak lama setelah vaksinasi, secara kebetulan. Kejadian ko-insiden ini membuat sulit untuk mengetahui apakah efek samping tertentu merupakan akibat kondisi medis atau akibat dari vaksinasi. Oleh karena itu, penyedia layanan vaksinasi dianjurkan untuk melaporkan semua kejadian buruk setelah vaksinasi, baik mereka percaya vaksinasi adalah penyebabnya ataupun tidak.

    FDA juga mengeluarkan statement ini untuk menentang penyalahgunaan data VAERS oleh komunitas anti-imunisasi. Apakah semua kejadian dilaporkan kepada VAERS disebabkan oleh vaksinasi? Tidak. Karena VAERS menerima semua laporan kejadian penyerta setelah vaksinasi, tidak semua kejadian yang dilaporkan kepada VAERS disebabkan oleh vaksin. Beberapa kejadian mungkin terjadi secara kebetulan setelah pemberian vaksin, sementara yang lain mungkin memang disebabkan oleh vaksin. Penelitianlah yang membantu menentukan hubungan antara imunisasi dan kejadian penyerta tersebut. Sebuah kejadian yang buruk setelah pemberian vaksin bukanlah bukti yang meyakinkan bahwa peristiwa itu disebabkan oleh vaksin. Berbagai faktor (misalnya, riwayat medis penerima vaksin, obat-obat lain yang diberikan berdekatan waktu vaksinasi) harus diperiksa untuk menentukan apakah mereka bisa menyebabkan kejadian penyerta. Banyak kejadian penyerta yang dilaporkan kepada VAERS tidak disebabkan oleh vaksin. (dapat anda baca sendiri di http://www.fda.gov/BiologicsBloodVaccines/SafetyAvailability/ReportaProblem/VaccineAdverseEvents/QuestionsabouttheVaccineAdverseEventReportingSystemVAERS/default.htm)

    3. Bordetella Pertussis - “Whooping Cough”
    “Pada 1986 ada 1300 kasus pertusis di Kansas dan 90% penderita adalah anak-anak yang telah mendapatkan vaksinasi ini sebelumnya. Kegagalan sejenis juga terjadi di Nova Scotia di mana pertusis telah muncul sekalipun telah dilakukan vaksinasi universal”
    Pertusis di Kansas
    Paragraf di atas tidak memuat rujukan referensi yang sahih darimana laporan tersebut berasal. Tapi tetap saja harus kita telusuri. Mari kita runut sejarahnya, saya mengambil rujukan dari surveilans CDC untuk kasus pertusis dari tahun 1986-1988 di Amerika Serikat, yang dapat anda baca di Current Trends Pertussis Surveillance — United States, 1986-1988. MMWR. February 02, 1990 / 39(4);57-58,63-66 (http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00001550.htm). Sepanjang tahun 1986 hingga 1988 di Amerika terjadi kejadian pertusis yang cukup banyak, 5 negara bagian dengan angka kesakitan terbesar terjadi di Idaho (17.1 kasus per 100,000 penduduk), Kansas (17.0 per 100,000), Delaware (12.5 per 100,000), Hawaii (10.7 per 100,000), dan New Hampshire (6.6 per 100,000). Wabah yang terjadi di Kansas tahun 1986 memang menyumbang jumlah kasus terbanyak, sebanyak1030 (bukan 1300) kasus pertusis dilaporkan selama tahun tersebut. Selama tahun 1986 hingga 1988 tersebut kejadian pertusis di Amerika Serikat tercatat sebanyak 10,468 kasus (4195 pada tahun 1986, 2823 pada tahun 1987, dan 3450 pada tahun 1988). Berlawanan dengan klaim data pegiat anti-vaksin di atas, berdasarkan data yang dkumpulkan CDC, sebanyak 3793 pasien anak berusia 3 bulan sampai 4 tahun, 63% tidak mendapat imunisasi serial pertusis yang cukup, dan 34% bahkan belum diimunisasi sama sekali. Sudah jelas bukan berapa persen anak yang mana yang kena pertusis, 90% itu data karangan siapa? Laporan kejadian wabah tersebut justru mendukung Amerika Serikat makin giat dengan program imunisasi pertussis di kemudian hari.

    Pertussis di Nova Scotia
    Saya yakin kebanyakan (atau malah semua?) pencopy paste di blog anti-vaksin sebelum membaca ini tidak tahu dari mana pernyataan “kegagalan” imunisasi di Nova Scotia berasal. Ketahuilah, pegiat anti imunisasi pertama yang memiliki ide mengemukakan hal tersebut mencuplik sebagian kalimat dari penelitian ini untuk menipu pembaca:
    Halperin SA, Bortolussi R, MacLean D, Chisholm N. Persistence of pertussis in an immunized population: results of the Nova Scotia Enhanced Pertussis Surveillance Program. J Pediatr. 1989 Nov;115(5 Pt 1):686-93.

    Penelitian Scott Halperin tersebut sebenarnya merupakan hasil dari metode program surveilans (pelacakan dan pengawasan) yang diperbarui terhadap kasus pertusis di Nova Scotia, dengan metode kombinasi klinis dan laboratoris tersebut.  Dr. Halperin berhasil menemukan kasus pertusis secara lebih banyak dan detil, termasuk kasus pertussis yang terjadi pada individu yang telah menjalani vaksinasi. Sayangnya, kalimat terakhir di abstrak publikasinya yang mana tercantum kalimat “…We conclude that pertussis remains a significant health problem in Nova Scotia, despite nearly universal vaccination” kemudian dijadikan bahan pembodohan publik oleh pegiat anti-imunisasi.
    Namun mereka tidak pernah mengungkapkan fakta penelitian dr. Halperin selanjutnya yang telah diajarkan kepada seluruh mahasiswa kedokteran di dunia (yang memang mau mempelajari ilmu kedokteran beneran, bukan yang bayar mahal masuk FK cuma buat cari gelar dokter). Dalam penelitian berjudul :
    Bortolussi R, Miller B, Ledwith M, Halperin S. Clinical course of pertussis in immunized children. Pediatr Infect Dis J. 1995 Oct;14(10):870-4.
    tersebutlah bahwasanya: “Despite adequate immunization some children develop pertussis. The clinical course in these patients is milder than in unimmunized subjects“. Meskipun sudah diimunisasi, seorang anak dapat terkena pertussis, namun dengan gejala yang jauh lebih ringan daripada anak yang tidak diimunisasi. Tahukah anda seperti apa pertussis yang berat & parah? coba baca sendiri Bordetella Pertussis di wiki, atau http://www.cdc.gov/pertussis/clinical/complications.html. Dua penelitian di Nova Scotia oleh Prof. Scott Halperin tersebut justru menjadi landasan penting rekomendasi imunisasi pertusis pada anak.

    4. Perang Dunia II melawan Difteri & Eleanora McBean
    “Jerman mewajibkan vaksinasi tahun 1939. Jumlah kasus dipteri naik menjadi 150.000 kasus, di mana pada tahun yang sama, Norwegia yang tidak melakukan vaksinasi, kasus dipterinya hanya sebanyak 50 kasus”.
    Kalimat di atas merupakan terjemahan dari “At the beginning of the Second World War immunization was made compulsory in Germany and the diphtheria rate soared up to 150,000 cases (1939) while in unvaccinated Norway there were only 50 cases.” yang ditulis Eleanor McBean dalam bukunya The Poisoned Needle: Suppressed Facts About Vaccination, tahun 1957. Pembaca bertanya, apa saya sudah baca buku itu? jawab saya: sudah, baru selesai sebagian dan menemukan kalimat di atas, saya langsung tertawa terbahak-bahak. Dalam bukunya ia tidak menyebutkan darimana data itu berasal, menghitung sendirikah, dari curhatan Adolf Hitler sebelum menginvasi Polandia (Fall Weiß), atau cuma copy paste blog anti-vaksin Jerman milik kakek Gerhard Buchwald (kalau Buchwald sempat bikin blog hehe).  Anda dapat menikmati salah satu kitab suci pujaan umat anti-imunisasi Amerika tersebut dalam situs fanatik anti imunisasi www.whale.to tepatnya di http://www.whale.to/a/mcbean.html#IMMUNIZATION INCREASED DIPHTHERIA IN SOME COUNTRIES . Silakan baca, sumpah isinya lucu banget. Ya, Eleanor McBean adalah aktivis anti-vaksin ternama dengan banyak buku seperti  The Poisoned Needle (1957),  Answers For The Worried Smoker (1962),Swine Flu Expose (1977), Vaccination, The Silent Killer (1977), Vaccination Condemned (1981). Anda dapat membaca profil tentang almarhum nenek Eleanor McBean ini di wikipedia.

    5. Raja Teori Konspiratif Alan Cantwell
    “Tahun 1989-1991 vaksin campak ”high titre” buatan Yugoslavia Edmonton-Zagreb diuji coba pada 1500 anak-anak miskin keturunan orang hitam dan latin, di kota Los Angeles, Meksiko, Haiti dan Afrika. Vaksin tersebut sangat direkomendasikan oleh WHO. Program dihentikan setelah di dapati banyak anak-anak meninggal dunia dalam jumlah yang besar”
    “Vaksin campak menyebabkan penindasan terhadap sistem kekebalan tubuh anak-anak dalam waktu panjang selama 6 bulan sampai 3 tahun. Akibatnya anak-anak yang diberi vaksin mengalami penurunan kekebalan tubuh dan meninggal dunia dalam jumlah besar dari penyakit-penyakit lainnya WHO kemudian menarik vaksin-vaksin tersebut dari pasar di tahun 1992″
    Pembaca dapat menemukan petikan asli dari paragraf di atas pada (anda semua pasti bisa menerka) www.whale.to, situs penentang pengobatan medis terpopuler. Petikan tersebut merupakan pernyataan dari Alan Cantwell Jr, pensiunan ahli kulit yang berevolusi menjadi pencetus teori konspiratif tentang HIV-AIDS dan penentang imunisasi terfavorit (bagi kalangan anti vaksin tentu saja). Silakan baca profilnya Alan Cantwell di wiki. Seperti yang biasa penentang imunisasi lakukan, Cantwell dalam salah satu buku teori konspiratifnya yang berjudul “Are Vaccines Causing More Disease Than They Are Curing?” (1999) memutar balikkan berita yang ia baca di L.A. Times 20 Juni 1996 (ya, cuma berita di koran) yang berjudul Measles, Government and Trust (dapat anda cari di arsip L.A Times, atau klik di http://articles.latimes.com/1996-06-20/local/me-16843_1_los-angeles), Cantwell berteori konspiratif dengan menuduh pemerintah Amerika Serikat sengaja menggunakan anak-anak sebagai bahan percobaan
    Berita di LA Times 20 Juni 1996 tersebut sebenarnya memberitakan tentang kesalahan form inform consent CDC dalam penelitian vaksin campak titer tinggi strain Edmonston-Zagreb (EZ) di Los Angeles pada tahun 1989-1991. Penelitian CDC tersebut bertujuan untuk melihat perbedaan penggunaan vaksin campak titer tinggi strain Edmonston-Zagreb dengan strain Moraten. Namun penelitian tersebut tidak sempat terselesaikan karena WHO memutuskan menarik vaksin titer tinggi strain Edmonston-Zagreb dari peredaran, karena pada penelitian serupa yang dilakukan bersamaan di Senegal, Guinea Bissau dan Haiti muncul pertanyaan kemungkinan hubungan antara dosis tinggi vaksin campak strain EZ dengan peningkatan kematian pada bayi perempuan.
    Cantwell memanipulasi berita tersebut dengan mengatakan bahwa vaksin campak Edsmonton Zagreb telah banyak mengakibatkan kematian pada bayi di Meksiko, Haiti dan Afrika, bahwa bayi perempuan pada penelitian di Afrika sengaja diberi 2x dosis bayi laki-laki sehingga banyak yang mati, dan bahwa vaksin campak menekan sistem imun bayi selama 6 bulan hingga 3 tahun yang berakibat bayi dengan imunitas yang tertekan tersebut banyak yang mati, sehingga vaksin campak Edmonston Zagreb ditarik WHO kemudian, namun pemerintah Amerika Serikat tetap menggunakannya untuk percobaan di Los Angeles pada anak-anak miskin keturunan afrika dan latin.

    Alan Cantwell Jr. lahir di Bronx, New York City, pada tanggal 4 Januari 1934. Ayahnya adalah seorang ahli bedah ortopedi dan ibunya seorang perawat. Dia kuliah di Cornell University, lulus pada tahun 1955, kemudian mengikuti pendidikan kedokteran di New York Medical College. Setelah lulus pada 1959, ia magang di Mercy Hospital di San Diego, California. Tertarik dengan AIDS, Cantwell menaruh minat besar untuk menentukan apakah ada bukti ilmiah untuk mendukung klaim Strecker tentang HIV-AIDS (Robert Strecker, seorang internis Los Angeles yang mengklaim bahwa epidemi AIDS adalah buatan manusia, satu lagi dokter penggemar teori konspirasi). Ia sangat yakin terhadap klaim Strecker bahwa AIDS adalah penyakit buatan manusia. Penelitian-penelitiannya sendiri kemudian membawa Cantwell ke “daerah gelap” ilmu pengetahuan, seperti senjata biologis, eksperimen radiasi manusia oleh pemerintah AS, isu genosida, dan berbagai aspek teori konspirasi lainnya. Silakan baca profilnya yang cukup netral di http://socialarchive.iath.virginia.edu/xtf/view?docId=cantwell-alan-1934–cr.xml atau http://www.oac.cdlib.org/findaid/ark:/13030/kt2s2033zz/
    Karya wahamnya yang membahana semacam “Bacteria: The Ultimate Cause of Cancer?” (2003) ; “Bacteria, Cancer & the Origin of Life” (2003; ia mengajukan teori bahwa kanker disebabkan oleh bakteri, yang dikombinasi dengan kekuatan “energi alami yang tak terlihat” - opo meneh iki), “Queer Blood: The Secret AIDS Genocide Plot” (1997), “The Secret Origin of AIDS and HIV” (2000) (HIV-AIDS merupakan buatan manusia untuk memusnahkan gay dan ras afrika!), mungkin membuat muntah banyak penerbit buku, sehingga ia membuat penerbit buku sendiri (Aries Rising) atau menyusupkan artikelnya dalam majalah-majalah konspirasi dan pengobatan alternatif (New Dawn, Paranoia Magazine, Nexus, The New African). Anda tidak perlu berlangganan majalah-majalah tersebut jika ingin ikut muntah, sudah disediakan secara lengkap pada profilnya yang dipuja di www.whale.to (http://www.whale.to/c/cantwell_alan.html)
    Pengarang buku anti imunisasi populer di Indonesia ibu Ummu Salamah ternyata juga latah mencopy paste teori konspirasi Alan Cantwell tentang vaksin campak di atas. Yang perlu anda catat adalah bahwa Alan Cantwell adalah seorang gay, yang bertemu pasangan hidupnya, Frank A. Sinatra di tahun 1974. Pada tanggal 19 Oktober 2008, keduanya ‘menikah’ di Hollywood (ya, maka jangan heran bukunya banyak mengunggah teori konspiratif penindasan terhadap kaum gay). Alan Cantwell juga pemuja teori Orgone, energi ‘gaib’ yang ditemukan di alam dan di seputar orgasme (hah!?), temuan Wilhelm Reich, psikoanalis yahudi nyentrik & aneh yang terusir dari Jerman (saking ngefansnya Cantwell sampe membuat buku berjudul “Dr. Wilhelm Reich: Scientific Genius – or Medical Madman?”). Mungkinkah umat muslim sekarang menganggap sahih “fatwa” seorang gay penghasil orgone dari orgasmenya?

    Ada kutipan pernyataan lagi dari komunitas anti imunisasi:
    “Setiap program vaksin dari WHO di laksanakan di Afrika dan Negara-negara dunia ketiga lainnya, hampir selalu terdapat penjangkitan penyakit-penyakit berbahaya di lokasi program vaksin dilakukan. Virus HIV penyebab Aids di perkenalkan lewat program WHO melalui komunitas homoseksual melalui vaksin hepatitis dan masuk ke Afrika tengah melalui vaksin cacar”
    Mari pembaca ikut menebak, darimana teori konspirasi di atas berasal? ciri khas: HIV, AIDS, homoseksual, Afrika - ya, betul sekali, ini jelas pernyataan konspiratif Alan Cantwell, dari bukunya yang juga masih itu-itu saja.

    6. Nigeria Memboikot Imunisasi Polio
    “Penularan polio dalam skala besar, menyerang anak-anak di Nigeria Utara berpenduduk muslim. Hal itu terjadi setelah diberikan vaksinasi polio, sumbangan AS untuk penduduk muslim. Beberapa pemimpin Islam lokal menuduh Pemerintah Federal Nigeria menjadi bagian dari pelaksanaan rencana Amerika untuk menghabiskan orang-orang Muslim dengan menggunakan vaksin”
    Berita mengenai penolakan vaksinasi polio di Nigeria ini benar adanya, anda dapat membaca berita-berita tentangnya di situs-situs berita internasional ternama sekitar tahun 2002-2004. Ya, ini berita sedih, inilah contoh nyata bagaimana kepercayaan agama dan isu sentimen terhadap barat kemudian terkompori oleh teori-teori konspiratif kaum penolak-imunisasi.
    Nigeria adalah salah satu negara dengan jumlah penderita polio yang sangat banyak, WHO melaporkan bahwa lebih dari 40 persen dari 677 kasus baru polio yang tercatat di seluruh dunia pada tahun 2002 berada di Nigeria. Jumlah kasus polio di Nigeria memang sudah besar,namun bukan karena imunisasi polio. Program imunisasi polio yang kemudian mulai digalakkan di Nigeria sempat terganggu ketika Oktober 2003 para pemimpin politik negara bagian Kano, Zamfara, Bauchi dan Niger di Nigeria utara menyerukan kepada orang tua tidak membiarkan anak-anak mereka untuk diimunisasi, memperingatkan mereka bahwa vaksin tersebut dapat terkontaminasi. Seruan untuk melawan vaksinasi oleh para pemuka agama di Nigeria utara menemukan wadahnya ketika mereka diterima oleh ketua Supreme Council for Sharia in Nigeria (SCSN), Dr. Datti Ahmed. Ia mengatakan bahwa ada kemungkinan kuat bahwa vaksin telah terkontaminasi dengan agen anti-kesuburan dan seharusnya tidak diberikan pada anak sampai penyelidikan penuh selesai dilakukan (Reps And the Polio Vaccine Controversy, Daily Trust Newspaper, Nigeria at All Africa.com, 30 Desember 2003). Dr. Datti Ahmed juga menyatakan bahwa vaksin polio “..rusak dan dinodai oleh pelaku kejahatan dari Amerika dan sekutu Barat mereka” serta “Kami percaya bahwa Hitler-modern  secara sengaja mencemari vaksin polio oral dengan obat anti-kesuburan dan … virus yang diketahui menyebabkan HIV dan AIDS” (Vaccine Boycott Spreads Polio, News24.com, 11 Februari 2004). Lagi-lagi konspirasi vaksin-HIV-AIDS-Afrika, coba tebak siapa tokoh pencetus teori ini? ya, Alan Cantwell. Negara bagian Bauchi, Niger dan Zamfara hanya memboikot satu putaran Hari Imunisasi Nasional, sementara negara bagian Kano terus memboikot selama hampir setahun.
    Kebuntuan ini akhirnya diselesaikan melalui dialog, dengan para pemimpin keagamaan memainkan peran signifikan dalam prosesnya. Pemerintah federal Nigeria mengundang para pemimpin politik dan agama mengikuti serangkaian pertemuan untuk mencari solusi untuk kebuntuan yang terjadi. Pertemuan ini menghasilkan konsensus pada bulan Februari 2004 dengan menerima permintaan SCSN untuk menguji vaksin secara mandiri di negara muslim. Pada bulan Februari 2004, pemerintah Nigeria mengirimkan wakil negara dan agama ke Afrika Selatan, Indonesia, dan India untuk mengamati pengujian vaksin polio dan membawa kembali bukti bahwa vaksin polio tidak terkontaminasi dengan HIV.

    Dalam pembelaan diri mengenai aksi boikot-nya selama 11 bulan tersebut, gubernur negara bagian Kano, Ibrahim Shekarau, menegaskan kembali bahwa keputusan mereka untuk memboikot dikarenakan hasil tes yang tidak memuaskan oleh tim pemerintah federal Nigeria. Puas dengan hasil uji kualitas dan proses produksi vaksin polio dari negara yang dikunjungi, tim dari negara bagian Kano kembali dengan membawa hasil persetujuan dengan Bio Farma, perusahaan vaksin Indonesia, yang kemudian direkomendasikan oleh mereka menjadi pemasok baru vaksin polio bagi negara-negara bagian di Nigeria yang berpenduduk mayoritas muslim. Indonesia adalah negara muslim yang dipercaya oleh para pemimpin muslim Nigeria untuk menguji vaksin polio.
    Dua bulan setelah negara bagian Kano kembali melaksanakan program imunisasi polio, sekitar 150 ulama muslim dan pemimpin tradisional dari Chad, Kamerun, Niger, Togo, Benin, dan Burkina Faso bertemu di Kano pada tanggal 22 September 2004 untuk membahas jalan ke depan sehubungan dengan imunisasi polio, mungkin sekalian mau jalan-jalan ke Bandung melihat Bio Parma, memborong peuyeum, dan telepisi (bahasa Sunda untuk televisi).
    Bila anda menginginkan membaca sumber tulisan di atas tersebut, mengenai kasus Nigeria yang lebih lengkap dan obyektif, anda dapat mencermati thesis Jegede AS (2007) ‘What Led to the Nigerian Boycott of the Polio Vaccination Campaign?‘ PLoS Med 4(3): e73. dan Polio Vaccines – Difficult to Swallow. The Story of a Controversy in Northern Nigeria, tulisan Maryam Yahya yang dipublikasikan dalam IDS Working Paper 261 oleh Institute of Development Studies pada bulan Maret 2006.

    Iklan sebentar ya : Teori Konspirasi
    “Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut”
    Tanpa data/bukti pendukung, kalimat di atas memang merupakan salah satu bentuk teori konspiratif. Teori konspirasi ‘kayak gituan’ lebih sering berawal dari asumsi (mungkin dgn background keyakinan, kepercayaan, pengalaman, trauma/sentimen yang sudah sangaat mendalam hingga diam-diam menjadi waham), yang kalau kreatornya sempat, ada waktu buat googling, ngupil, nyari-nyari di situs anti vaksin Amerika, atau menyambangi blog tetangga untuk dicopy paste, kemudian menambahkan bukti-bukti yang mendukung (ya jelas lah, masa bukti yang menentang ikut dipampang, mana laku teorinya). Ya, Indonesia masih banyak pengangguran gitu, lumrah kalau bermunculan profesi desperate sebagai blogger/fesbuker/kompasioner konspiratif plus pengobat alternatif, mungkin mereka merasa lebih gampang eksis & terkenal lewat kanal itu daripada mati-matian ngantri Indonesian Idol atau membakar diri di depan gedung DPR (mati beneran kalau yang ini).
    Tidak ada masalah dengan asumsi, siapa saja boleh berasumsi. Berasumsi sejauh apapun, hingga menuduh vaksin merupakan produk alien dari Mars juga tidak masalah (setidaknya tidak masalah bagi saya, entah bagi mahluk Mars). Maka, marilah kita terima teori konspiratif pada paragraf di atas dengan senang hati & penuh tawa, tidak perlu capek diperdebatkan. Biarkanlah si pencetus teori tersebut melengkapinya dengan bukti, biar lebih lucu lagi.

    7. Bart Classen dan Diabetes tipe I (IDDM)
    “Bart Classen, seorang dokter dari Maryland, menerbitkan data yang memperlihatkan bahwa tingkat penyakit diabetes berkembang secara signifikan di Selandia Baru, setelah vaksin hepatitis B diberikan secara massal di kalangan anak-anak”
    John Barthelow Classen, MD, MBA, menerima MD dari University of Maryland pada 1988 dan gelar MBA dari Columbia University pada tahun 1992. Dr Classen dipekerjakan di NIH di Laboratorium Imunologi, NIAID, antara 1988 dan 1991 sebelum ditinggalkannya untuk mendirikan ‘Immunotherapies Classen‘ (sebuah institusi GeJe - ga jelas yang katanya menyediakan suatu sistem untuk keamanan vaksin?) pada tahun 1991. Pernyataan Classen di atas tersebut tercantum dalam karya nomor 2 dari 5 penelitian kontroversialnya tentang relasi antara imunisasi dan diabetes tipe I:
    Classen JB. The timing of immunization affects the development of diabetes in rodents.Autoimmunity 1996;24:137-145
    Classen DC, Classen JB. The timing of pediatric immunization and the risk of insulin-dependent diabetes mellitus. Infect Dis Clin Pract 1997;6:449-454
    Classen JB, Classen DC. Immunization in the first month of life may explain decline in incidence of IDDM in the Netherlands. Autoimmunity 1999;31:43-45
    Classen JB, Classen DC. Clustering of cases of insulin dependent diabetes (IDDM) occurring three years after hemophilus influenza B (HiB) immunization support causal relationship between immunization and IDDM. Autoimmunity 2002;35:247-253
    Classen JB, Classen DC. Clustering of cases of type 1 diabetes mellitus occurring 2-4 years after vaccination is consistent with clustering after infections and progression to type 1 diabetes mellitus in autoantibody positive individuals. J Pediatr Endocrinol Metab 2003;16:495-508
    Classen menyatakan bahwa jika vaksinasi pertama pada anak dilakukan setelah usia 2 bulan, ada peningkatan risiko diabetes tipe I. Penelitian laboratorium Classen pada hewan juga menemukan bahwa vaksin tertentu, jika diberikan saat lahir, sebenarnya mengurangi risiko diabetes. Penelitian ini didasarkan pada percobaan menggunakan vaksin anthrax, yang sangat jarang digunakan pada anak-anak atau orang dewasa. Classen juga membandingkan angka kejadian diabetes tipe I dengan jadwal vaksinasi di berbagai negara, dan menafsirkan hasilnya bahwa vaksinasi menyebabkan peningkatan risiko diabetes. Pernyataan ini telah dikritik karena perbandingan antar negaranya tersebut mengikutkan vaksin yang tidak lagi digunakan atau jarang digunakan di negara tersebut, sepertismallpox (variola; cacar) dan vaksin tuberkulosis (BCG). Penelitian ini juga tidak mempertimbangkan banyak alasan selain vaksinasi yang dapat mempengaruhi tingkat diabetes tipe I di berbagai negara. Kemudian, pada tahun 2002, Dr Classen menyatakan bahwa vaksinasi anak-anak Finlandia dengan vaksin Hib menyebabkan kasus klaster diabetes 3 tahun kemudian, dan bahwa eksperimennya pada tikus di atas mengkonfirmasi hubungan ini. Silakan unduh pernyataan lengkap paragraf ini di http://www.ncirs.edu.au/immunisation/fact-sheets/diabetes-and-vaccines-fact-sheet.pdf dari http://www.ncirs.edu.au/)
    Dalam dunia riset medis, satu hasil penelitian tidak dapat dianut begitu saja sebagai acuan sebagai sumber penentu keputusan, melainkan harus berdasarkan verifikasi dan kesimpulan akhir dari banyak hasil penelitian. Penelitian kontroversial Classen memicu peneliti-peneliti di berbagai belahan dunia untuk memverifikasi temuan Classen ini dengan penelitian-penelitian mereka kemudian, dengan data yang lebih lengkap, lebih valid dan lebih komprehensif (beginilah cara para peneliti terpelajar ‘beradu argumen secara jantan’). Berikut beberapa penelitian tentang hubungan imunisasi antara diabetes tipe I, dan penyakit alergi & autoimmun lainnya yang menjawab pernyataan Classen:
    Heijbel H, Chen RT, Dahlquist G. Cumulative incidence of childhood-onset IDDM is unaffected by pertussis immunization. Diabetes Care. 1997 Feb;20(2):173-5.(http://care.diabetesjournals.org/content/20/2/173.full.pdf+html)
     Conclusion: The comparison of the cumulative incidence of IDDM, up to the age of 12 years, in birth cohorts with high and low exposure to pertussis vaccine does not support the hypothesis that pertussis could induce autoimmunity to the beta-cell that may lead to IDDM.

    Nilsson L, Kjellman NI, Bjorksten B. A randomized controlled trial of the effect of pertussis vaccines on atopic disease. Arch Pediatr Adolesc Med 1998 Aug;152(8):734-8 (http://archpedi.ama-assn.org/cgi/reprint/152/8/734.pdf)
    Conclusion: We found no support for a drastic increase in allergic manifestations after pertussis vaccination. There was a positive association between whooping cough and asthma by 2 1/2 years of age. There seems to be little reason to withhold pertussis vaccination from infants, irrespective of family history of allergy.

    Karvonen M, Cepaitis Z, Tuomilehto J.Association between type 1 diabetes and Haemophilus influenzae type b vaccination: birth cohort study.  BMJ1999;318:1169 (http://www.bmj.com/content/318/7192/1169)
     Conclusion: It is unlikely that H influenzae type b vaccination or its timing cause type 1 diabetes in children.

     Hiltunen M, Lönnrot M, Hyöty H. Immunisation and Type 1 Diabetes Mellitus: Is There a Link? Drug Saf. 1999 Mar;20(3):207-12.
    Conclusion: there is no clear evidence that any currently used vaccine can prevent or induce diabetes in humans

     Graves PM, Barriga KJ, Norris JM, Hoffman MR, Yu L, Eisenbarth GS, Rewers M. Lack of association between early childhood immunizations and beta-cell autoimmunity. Diabetes Care. 1999 Oct;22(10):1694-7.(http://care.diabetesjournals.org/content/22/10/1694.full.pdf)
    Conclusion: The results suggest that changing the early childhood immunization schedule would not affect the risk of developing beta-cell autoimmunity or type 1 diabetes.

    Ryan EJ, Nilsson L, Kjellman N, Gothefors L, Mills KH. Booster immunization of children with an acellular pertussis vaccine enhances Th2 cytokine production and serum IgE responses against pertussis toxin but not against common allergens.  Clin Exp Immunol. 2000 Aug;121(2):193-200.(http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1905694/?tool=pubmed)
    Conclusion: despite the enhancement of type-2 responses to B. pertussis antigens, booster vaccination with Acellular pertussis vaccines (Pa) does not appear to be a risk factor for allergy.

    DeStefano F, Mullooly JP, Okoro CA, Chen RT, Marcy SM, Ward JI, Vadheim CM, Black SB, Shinefield HR, Davis RL, Bohlke K; Vaccine Safety Datalink Team. Childhood vaccinations, vaccination timing, and risk of type 1 diabetes mellitus.Pediatrics. 2001 Dec;108(6):E112.
    Conclusion: In this large, population-based, case-control study, we did not find an increased risk of type 1 diabetes associated with any of the routinely recommended childhood vaccines

     Black SB, Lewis E, Shinefield H, et al. Lack of association between receipt of conjugate Haemophilus influenzae type b vaccine (HbOC) in infancy and risk of type 1 (juvenile onset) diabetes: long term follow-up of the HbOC efficacy trial cohort. Pediatr Infect Dis J. 2002;21:568 –569
     Conclusion: We found no evidence that vaccination with Hib conjugate vaccine in infancy is associated with risk of diabetes later in life.

       ..dan yang paling dahsyat tentu saja adalah

      Anders Hviid, M.Sc., Michael Stellfeld, M.D., Jan Wohlfahrt, M.Sc., and Mads Melbye, M.D., Ph.D. Childhood Vaccination and Type 1 Diabetes. N Engl J Med 2004; 350:1398-1404 (http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa032665#t=article)
    Conclusion: These results do not support a causal relation between childhood vaccination and type 1 diabetes.
      [penelitian Andres Hviid dan rekan ini merupakan penelitian cohort terbesar yang memfollow-up 4.720.517 orang (!), dengan database yang luar biasa lengkap & komprehensif]

    Penelitian-penelitian yang melawan hipotesis bahaya imunisasi oleh Classen ternyata banyak.. Silakan cari di PubMed (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/). Bila masih awam dengan Pubmed silakan cari di situs  Institute for Vaccine Safety (www.vaccinesafety.edu), situs ini milik kalangan akademisiJohns Hopkins yang cukup obyektif dan mampu telusur. Kalau masih kurang, buka daftar link situs tersebut http://www.vaccinesafety.edu/links.htm, di situ disediakan link ke banyak situs resmi akademisi & praktisi medis legal yang lain (jelas tidak ada situs organisasi anti vaksin atau pengobatan alternatif semacam NVIC atau whale.to yang ikutan nampang di situ)

    Bias Classen
    Independensi Bart Classen sangat dipertanyakan. Anda dapat mengeceknya sendiri, meskipun Classen mengaku dalam posisi tidak menentang vaksinasi, tapi websitenya sendiri (vaccine.net) mencantumkan link untuk “more information on vaccine safety and your rights” hanya menuju situs kelompok anti-vaksinasi The National Vaccine Information Center (NVIC), tentu pembaca sudah pernah mendengar tentang organisasi anti-imunisasi ini (silakan lihat http://vaccines.net/newpage114.htm). Baru-baru ini Classen juga aktif terlibat dalam konferensi kelompok penentang imunisasi yang berjudul Vaccine Safety Conference yang diselenggarakan oleh NVIC pada 3-8 Januari 2011 di Jamaika (silakan lihat http://www.vaccinesafetyconference.com/foundations.html). Ada yang ikut ke sana? lihat profil pembicara-pembicara pada situs itu, ahli-ahli anti-imunisasi pada kumpul semua lho.. termasukAndrew Wakefield; sayang kalau ngga iku...:)

    8. Akhir dari telaah tahap II
    Maaf bila ternyata isinya kurang humor bagi anda, saya memang bukan Raditya Dika, tapi bagi saya, sumpah isinya ini lelucon. “Bahaya Imunisasi? telaah tahap II” ini sedikit lebih ‘berat’ dari artikel tahap 1 lalu. Dimaksudkan untuk menunjukkan berbagai variasi ‘data-data’ invalid yang sering digunakan oleh pegiat anti-vaksin di Amerika, yang kemudian dengan latah dicopy-paste oleh blogger/facebooker/kompasioner (juga penulis buku, semacam ibu Ummu Salamah) di Indonesia, tanpa pandang bulu (emang ada bulunya?), mulai dari yang mudah dibuktikan rekayasa keterlaluannya, hingga yang harus dilawan dengan mengadakan penelitian-penelitian. Juga menunjukkan bagaimana kami, praktisi medis, tidak semudah itu percaya pada sajian data. Menutup telaah tahap ke -2 ini, mari kita lihat dulu paparan hasil penelitian berikut ini:

    Berdasarkan penelitian Prof. Dr. dr. Arian, PhD, peneliti ternama di Universitas Gaul Mahal, yang dipublikasikan di Indonesian Journal of Extremely Handsome Practitioners pada tahun 2011, sebanyak 76,3% dari 7632 responden wanita berusia 11-35 tahun di kecamatan Godeang mengakui bahwa dokter Julian Sunan adalah seorang dokter yang tampan

    Spesies manusia modern dengan IQ normal yang membaca paragraf pasti langsung percaya bahwa penelitian tersebut adalah rekayasa. Kesan pertama membaca: penelitiannya norak, ngga mungkin banget lah ada penelitian kaya gitu. Tapi apakah yang norak selalu merupakan rekayasa? dan apakah yang rekayasa selalu norak? tentu saja tidak, norak dan rekayasa tidak selalu berkorelasi positif.
    Bagaimana bila Prof. Arian ternyata memang merupakan ahli di bidang penelitian kegantengan di UGM? bagaimana bila Indonesian Journal of Extremely Handsome Practitioners memang ada dan diakui secara internasional? bagaimana bila tahun 2011 memang ada penelitian tersebut, yang benar dan sesuai standar di Godeang? bagaimana bila data dan analisis hasil data penelitian memang dipaparkan secara jujur dan benar?
    Yang saya tulis pada paragraf di atas jelas lelucon norak. Namun, untuk mengatakan suatu paparan hasil penelitian valid dan reliabel, rekayasa atau, tentu saja tidak hanya melihat dari tingkat kenorakannya. Apalagi untuk menjadikannya dasar penentuan keputusan. Ada prosedur review sistematis (http://en.wikipedia.org/wiki/Systematic_review) tersendiri yang selalu diikuti oleh para akademisi, termasuk kami, para dokter.
    Ya, kami juga selalu melakukan prosedur telaah tersebut, tidak hanya melihat suatu paparan hasil penelitian yang cool, keren dan tampak meyakinkan, kemudian kami ikuti sebagai pedoman. Setidaknya itu yang diajarkan pada kami dokter-dokter lulusan universitas negeri yang ndeso di Jogja (jaman saya kuliah dulu sih masih ndeso, tapi sekarang sudah sangat gaul dan mahal). Profesi kedokteran saat ini berlandaskan asas Evidence Based Medicine, harus ada bukti, penelitian, metaanalisis (http://en.wikipedia.org/wiki/Meta-analysis), review sistematis dan diikuti kemudian keputusan kolegium profesi yang harus benar-benar valid dan reliabel untuk melakukan suatu prosedur medis, bukan berdasar sembarang hasil penelitian tampak keren yang dipajang di situs internet. Apalagi mendasarkan diri pada sekedar hasil testimoni alias curhatan, baik korban maupun pelaku, baik pasien ataupun profesor.
    Prosedur tersebut memposisikan dokter, perawat, bidan untuk wajib bersikap netral, tidak berpihak kepada yang kontra, maupun yang pro terhadap imunisasi, untuk menghindari bias analisis & pengambilan keputusan. Banyak vaksin yang telah diciptakan di dunia, banyak penelitian yang mendalaminya, dan sejauh yang sudah saya pelajari, hasilnya tidak semua vaksin tersebut aman dan efektif, namun juga tidak semua vaksin berbahaya dan tidak efektif. Anda tentu dapat memakai logika, bagaimana mungkin seorang dokter bisa dikatakan obyektif untuk menilai suatu vaksin aman atau berbahaya, efektif atau tidak, bila sudah memposisikan diri dalam komunitas anti imunisasi?
    Silakan diverifikasi data penelitian di atas mengenai ketampanan saya, validkah? akan saya rangsang lagi hasrat muntah anda pada telaah tahap ke III, tentu saja bila mood menulis saya tiba-tiba muncul kembali…





    20 Mitos Kampanye Hitam Anti Imunisasi
    Dr. Widodo Judarwanto Sp.A

    Imunisasi adalah investasi terbesar bagi anak di masa depan. Imunisasi adalah hak anak yang tidak bisa ditunda dan diabaikan sedikitpun. Imunisasi sudah terbukti manfaat dan efektivitasnya dan teruji keamanannya secara ilmiah dengan berdasarkan kejadian berbasis bukti.

    Tetapi masih banyak saja orangtua dan kelompok orang yang menyangsikannya. Setiap tahun ada sekitar 2,4 juta anak usia kurang dari 5 tahun di dunia yang meninggal karena penyakit-penyakit yang dapat dicegah oleh vaksinasi. Di Indonesia, sekitar 7 persen anak belum mendapatkan vaksinasi. Salah satu masalah utama yang menghambat keberhasilan program imunisasi adalah penyebaran informasi yang tidak benar dan menyesatkan tentang imunisasi.

    Hal itu adalah wajar terjadi karena demikian banyak informasi yang beredar yang tidak berdasarkan pemikiran dan dasar ilmiah meski dilakukan oleh seorang dokter. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya.

    Biasanya, kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang berdiri dibelakang oknum pelaku naturopathy, food combining, homeopathy atau bisnis terapi herbal.

    Inilah 20 Mitos Tidak benar Yang Disebarkan Kampanye Hitam Anti Imunisasi :

    1. Imunisasi tidak aman.
    Tidak Benar. Saat ini 194 negara terus melakukan vaksinasi untuk bayi dan balita. Badan resmi yang meneliti dan mengawasi vaksin di negara tersebut umumnya terdiri atas para dokter ahli penyakit infeksi, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, dan biostatistika. Sampai saat ini tidak ada negara yang melarang vaksinasi, justru semua negara berusaha meningkatkan cakupan imunisasi lebih dari 90% .

    2. Terdapat "ilmuwan" menyatakan bahwa imunisasi berbahaya.
    Tidak benar imunisasi berbahaya. "Ilmuwan" yang sering dikutip di buku, tabloid, milis ternyata bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, wartawan. sehingga mereka tidak mengerti betul tentang vaksin. Sebagian besar mereka bekerja pada era tahun 1950- 1960, sehingga sumber datanya juga sangat kuno.

    3. "Ilmuwan kuno" yang sering dikutip informasi di media masa atau media elektronik lainnya adalah ahli vaksin.
    Tidak benar. Mereka semua bukan ahli vaksin. Contoh : Dr Bernard Greenberg (biostatistika tahun 1950), DR. Bernard Rimland (Psikolog), Dr. William Hay (kolumnis), Dr. Richard Moskowitz (homeopatik), dr. Harris Coulter, PhD (penulis buku homeopatik, kanker), Neil Z. Miller, (psikolog, jurnalis), WB Clark (awal tahun 1950), Bernice Eddy (Bakteriologis tahun 1954), Robert F. Kenedy Jr (sarjana hukum) Dr. WB Clarke (ahli kanker, 1950an), Dr. Bernard Greenberg (1957-1959), Dr. William Hay, penulis buku "Immunisation: The Reality behind the Myth"(penggagas food combioning). Neil Z. Miller sering disebut sebagai peneliti vaksin internasional ternyata adalah medical research journalist dan natural health advocate.

    4. Dokter Wakefield adalah "ahli vaksin", membuktikan MMR menyebabkan autisme.
    Tidak benar. Wakefield juga bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Penelitian Wakefield tahun 1998 hanya dengan sample 18. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di beberapa negara menyimpulkan MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal ini telah diumumkan di majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011.

    5. Imunisasi sebabkan autisme.
    Tidak benar. Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health pada bulan Agustus 2000, menegaskan bahwa MMR aman.

    Dengan memperhatikan hubungan yang tidak terbukti antara beberapa kondisi seperti inflammatory bowel disease (gangguan pencernaan) dan autisme adalah tidak berdasar. WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya. Beberapa institusi dan organisasi kesehatan bergengsi di Inggris pada Januari 2001 setelah mengadakan pertemuan dengan pemerintahan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yaitu MMR adalah vaksin yang sangat efektif dengan laporan keamanan yang sangat baik.

    The American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat pada tanggal 12 - 13 Juni 2000 mengadakan konferensi dengan topik "New Challenges in Childhood Immunizations" di Oak Brook, Illinois Amerika Serikat yang dihadiri para orang tua penderita autisme, pakar imunisasi kesehatan anak dan para peneliti. Pertemuan tersebut merekomendasikan bahwa tidak terdapat hubungan antara MMR dan autisme. Menyatakan bahwa pemberian imunisasi secara terpisah tidak lebih baik dibandingkan MMR, malahan terjadi keterlambatan imunisasi MMR. Selanjutnya akan dilakukan penelitian lebih jauh tentang penyebab autisme.

    6. Thimerosal dalam kandungan autism sebagai penyebab autisme. 
    Tidak benar. Penelitian yang mengungkapkan bahwa thimerosal tidak mengakibatkan Autis dilakukan oleh berbagai penelitian di antaranya dilakukan oleh Kreesten M. Madsen dkk dari berbagai intitusi di Denmark. Mereka mengadakan penelitian bersama terhadap anak usia 2 hingga 10 tahun sejak tahun 1970 hingga tahun 2000. Mengamati 956 anak sejak tahun 1971 hingga 2.000 anak dengan autis. Sejak thimerosal digunakan hingga tahun 1990 tidak didapatkan kenaikkan penderita auitis secara bermakna. Kemudian sejak tahun 1991 hingga tahun 2000 bersamaan dengan tidak digunakannya thimerosal pada vaksin ternyata jumlah penderita autis malah meningkat drastis. Kesimpulan penelitian tersebut adalah tidak ada hubungan antara pemberian thimerosal dengan autis. Demikian juga Stehr-Green P dkk, Department of Epidemiology, School of Public Health and Community Medicine, University of Washington, Seattle, WA, bulan Agustus 2003 melaporkan antara tahun 1980 hingga 1990 membandingkan prevalensi dan insiden penderita autisme di California, Swedia, dan Denmark yang mendapatkan ekposur dengan imunisasi thimerosal. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa insiden pemberian thimerosal pada autisme tidak menunjukkan hubungan yang bermakna.

    Geier DA dalam Jurnal Americans Physicians Surgery tahun 2003, menungkapkan bahwa thimerosal tidak terbukti mengakibatkan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan) dan penyakit jantung. Melalui forum National Academic Press tahun 2001, Stratton K dkk melaporkan tentang keamanan thimerosal pada vaksin dan tidak berpengaruh terhadap gangguan gangguan neurodevelopment (gangguan perkembangan karena persarafan). Sedangkan Hviid A dkk dalam laporan di majalah JAMA 2004 mengungkapkan penelitian terhadap 2.986.654 anak per tahun didapatkan 440 kasus autis. Dilakukan pengamatan pada kelompok anak yang menerima thimerosal dan tidak menerima thimerosal. Ternyata tidak didapatkan perbedaan bermakna. Disimpulkan bahwa pemberian thimerosal tidak berhubungan dengan terjadinya autis.

    Menurut penelitian Eto, menunjukkan manifestasi klinis autis sangat berbeda dengan keracunan merkuri. Sedangkan Aschner, dalam penelitiannya menyimpulkan tidak terdapat peningkatan kadar merkuri dalam rambut, urin dan darah anak Autis. Pichichero melakukan penelitian terhadap 40 bayi usia 2-6 bulan yang diberi vaksin yang mengandung thimerosal dan dibandingkan pada kelompok kontrol tanpa diberi thimerosal. Setelah itu dilakukan evaluasi kadar thimerosal dalam tinja dan darah bayi tersebut. Ternyata thimerosal tidak meningkatkan kadar merkuri dalam darah, karena etilmerkuri akan cepat dieliminasi dari darah melalui tinja. Selain itu masih banyak lagi peneliti melaporkan hasil yang sama, yaitu thimerosal tidak mengakibatkan autisme.

    7. Semua vaksin terdapat zat-zat berbahaya yang dapat merusak otak ?
    Tidak benar. Isu itu karena "ilmuwan" tersebut di atas tidak mengerti isi vaksin, manfaat, dan batas keamanan zat-zat di dalam vaksin. Contoh: jumlah total etil merkuri yang masuk ke tubuh bayi melalui vaksin sekitar 2 mcg/kgbb/minggu, sedangkan batas aman menurut WHO adalah jauh lebih banyak (159 mcg/kgbb/minggu). Oleh karena itu vaksin mengandung merkuri dengan dosis yang sangat rendah dan dinyatakan aman oleh WHO dan badan-badan pengawasan lainnya.

    8. Vaksin terbuat dari nanah, dibiakkan di janin anjing, babi, manusia yang sengaja digugurkan?
    Tidak benar. Isu itu bersumber dari "ilmuwan" 50 tahun lalu (tahun 1961-1962). Pengetahuan imunologi, biomolekuilar vaksin dan tknologi pembuatan vaksin berkembang sangat pesat. Sekarang tidak ada vaksin yang terbuat dari nanah atau dibiakkan embrio anjing, babi, atau manusia. Metode baru dan teknologi paling modern dari manipulasi biomolekuler telah diyakini teknologi vaksin baru sekarang memasuki "zaman keemasan." Perbaikan vaksin sangat mungkin dilakukan di masa depan untuk mendapatkan keamanan dan efektifitas vaksin lebih hebat lagi

    9. Imunisasi tak masuk akal bermanfaat.
    Tidak benar. Pendapat yang menyesatkan yang tidak berdasarkan kajian ilmiah dan penelitian ilmiah dikeluarkan oleh Dr. William Hay seorang dokter yang bergerak di bidang food combining, dalam buku "Immunisation: The Reality behind the Myth""Tak masuk akal memikirkan bahwa Anda bisa menyuntikkan nanah ke dalam tubuh anak kecil dan dengan proses tertentu akan meningkatkan kesehatan. Tubuh punya cara pertahanan tersendiri yang tergantung pada vitalitas saat itu. Jika dalam kondisi fit, tubuh akan mampu melawan semua infeksi, dan jika kondisinya sedang menurun, tidak akan mampu. Dan Anda tidak dapat mengubah kebugaran tubuh menjadi lebih baik dengan memasukkan racun apapun juga ke dalamnya." Padahal sampai saat ini 194 negara di seluruh dunia yakin bahwa imunisasi aman dan bermanfaat mencegah wabah, sakit berat, cacat, dan kematian pada bayi dan balita. Terbukti 194 negara tersebut terus menerus melaksanakan program imunisasi, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dengan cakupan umumnya lebih dari 85 %. Ribuan penelitian tentang efikasi dan manfaat vaksi secara biomolekular dan secara statistik bermanfaat secara bermakna.

    10. Vaksin mengandung lemak babi ?
    Tidak benar. Hanya sebagian kecil dari vaksin yang pernah bersinggungan dengan tripsin pada proses pengembangan maupun pembuatannya seperti vaksin polio injeksi (IPV) dan meningitis. Pada vaksin meningitis, pada proses penyemaian induk bibit vaksin tertentu 15 – 20 tahun lalu, ketika panen bibit vaksin tersebut bersinggungan dengan tripsin pankreas babi untuk melepaskan induk vaksin dari persemaiannya. Tetapi kemudian induk bibit vaksin tersebut dicuci dan dibersihkan total, sehingga pada vaksin yang disuntikkan tidak mengandung tripsin babi. Atas dasar itu maka Majelis Ulama Indonesia berpendapat vaksin itu boleh dipakai, selama belum ada penggantinya. Contohnya vaksin meningokokus (meningitis) haji diwajibkan oleh Saudi Arabia bagi semua jemaah haji untuk mencegah radang otak karena meningokokus.

    11. Vaksin yang dipakai di Indonesia buatan Amerika ?
    Tidak benar. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung, yang merupakan BUMN, dengan 98,6% karyawannya adalah Muslim. Proses penelitian dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin di BPOM dan WHO. Vaksin-vaksin tersebut juga diekspor ke 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam, seperti Iran dan Mesir. Vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Biofarma Bandung. Vaksin-vaksin tersebut dibeli dan dipakai oleh 120 negara, termasuk 36 negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam

    12. Program imunisasi hanya di negara Muslim dan miskin agar menjadi bangsa yang lemah?
    Tidak benar. Imunisasi saat ini dilakukan di 194 negara, termasuk negara-negara maju dengan status sosial ekonomi tinggi, dan negara-negara non-Muslim. Kalau imunisasi bisa melemahkan bangsa, maka mereka juga akan lemah, karena mereka juga melakukan program imunisasi, bahkan lebih dulu dengan jenis vaksin lebih banyak. Kenyataanya : bangsa dengan cakupan imunisasi lebih tinggi justru lebih kuat. Jadi terbukti bahwa imunisasi justru memperkuat kekebalan terhadap penyakit infeksi, bukan melemahkan.

    13. Di Amerika banyak kematian bayi akibat vaksin ?
    Tidak benar. Isu itu karena penulis tidak faham data Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, yang mencatat 38.787 laporan kejadian ikutan pasca imunisasi, oleh penulis angka tersebut ditafsirkan sebagai angka kematian bayi 1 - 3 bulan. Kalau memang benar angka kematian begitu tinggi tentu FDA AS akan heboh dan menghentikan vaksinasi. Faktanya Amerika tidak pernah meghentikan vaksinasi bahkan mempertahankan cakupan semua imunisasi di atas 90 %. Angka tersebut adalah semua keluhan nyeri, gatal, merah, bengkak di bekas suntikan, demam, pusing, muntah yang memang rutin harus dicatat kalau ada laporan masuk. Kalau ada 38.787 laporan dari 4,5 juta bayi berarti KIPI hanya 0,9 %.

    14. Banyak bayi balita meninggal pada imunisasi masal campak di Indonesia ?
    Tidak benar. Setiap laporan kecurigaan adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) selalu dikaji oleh Komnas/Komda KIPI yang terdiri dari pakar-pakar penyakit infeksi, imunisasi, imunologi. Setelah dianalisis dari keterangan keluarga, dokter yang merawat di rumah sakit, hasil pemeriksaan fisik, dan laboratorium, ternyata balita tersebut meninggal karena radang otak, bukan karena vaksin campak. Pada bulan itu ada beberapa balita yang tidak imunisasi campak juga menderita radang otak. Berarti kematian balita tersebut bukan karena imunisasi campak, tetapi karena radang otak.

    15. Demam, bengkak, merah setelah imunisasi adalah bukti vaksin berbahaya?
    Tidak benar. Demam, merah, bengkak, gatal di bekas suntikan adalah reaksi wajar setelah vaksin masuk ke dalam tubuh. Seperti rasa pedas dan berkeringat setelah makan sambal adalah reaksi normal tubuh kita. Umumnya keluhan tersebut akan hilang dalam beberapa hari. Boleh diberi obat penurun panas, dikompres. Bila perlu bisa konsul ke petugas kesehatan terdekat.

    16. Program imunisasi gagal?
    Tidak benar. Isu-isu tersebut bersumber dari data yang sangat kuno (50-150 tahun lalu) hanya dari 1 - 2 negara saja, sehingga hasilnya sangat berbeda dengan hasil penelitian terbaru, karena vaksinnya sangat berbeda. Isu vaksin cacar variola gagal, berdasarkan data yang sangat kuno, di Inggris tahun 1867 - 1880 dan Jepang tahun 1872-1892. Fakta terbaru sangat berbeda, bahwa dengan imunisasi cacar di seluruh dunia sejak tahun 1980 dunia bebas cacar variola. Isu vaksin difteri gagal, berdasarkan data di Jerman tahun 1939. Fakta sekarang: vaksin difteri dipakai di seluruh dunia dan mampu menurunkan kasus difteri hingga 95 %. Isu pertusis gagal hanya dari data di Kansas dan Nova Scottia tahun 1986. Isu vaksin campak berbahaya hanya berdasar penelitian 1989-1991 pada anak miskin berkulit hitam di Meksiko, Haiti dan Afrika.

    17. Program imunisasi gagal, karena setelah diimunisasi bayi balita masih bisa tertular penyakit tersebut ?
    Tidak benar. Program imunisasi di seluruh dunia tidak pernah gagal. Perlindungan vaksin memang tidak 100%. Bayi dan balita yang telah diimunisasi masih bisa tertular penyakit, tetapi jauh lebih ringan dan tidak berbahaya. Banyak penelitian imunologi dan epidemiologi di berbagai membuktikan bahwa bayi balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit berbahaya. Mereka mudah tertular penyakit tersebut, akan menderita sakit berat, menularkan ke anak-anak lain, menyebar luas, terjadi wabah, menyebabkan banyak kematian dan cacat.

    18. Vaksin berbahaya, tidak effektif, tidak dilakukan di negara maju ?
    Tidak benar. Karena di Indonesia ada orang-orang yang tidak mengerti tentang vaksin dan imunisasi, hanya mengutip dari "ilmuwan" tahun 1950 -1960 yang ternyata bukan ahli vaksin, atau berdasar data-data 30 - 40 tahun lalu (1970 - 1980an) atau hanya dari 1 sumber yang tidak kuat. Atau dia mengutip Wakefield spesialis bedah, bukan ahli vaksin, yang penelitiannya dibantah oleh banyak tim peneliti lain, dan oleh majalah resmi kedokteran Inggris British Medical Journal Februari 2011 penelitian Wakefield dinyatakan salah atau bohong. Ia hanya berdasar kepada 1 - 2 laporan kasus yang tidak diteliti lebih lanjut secara ilmiah, hanya berdasar logika biasa. Badan penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa dengan meningkatkan cakupan imunisasi, maka penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi berkurang secara bermakna. Oleh karena itu, saat ini program imunisasi dilakukan terus menerus di 194 negara, termasuk negara dengan sosial ekonomi tinggi dan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

    19. ASI, gizi, dan suplemen herbal sudah cukup menggantikan imunisasi .
    Tidak ada satupun badan penelitian di dunia yang menyatakan bisa, karena kekebalan yang dibentuk sangatlah berbeda. ASI, gizi, suplemen herbal, kebersihan, hanya memperkuat pertahanan tubuh secara umum, karena tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu. Kalau jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau bahkan mati. Imunisasi merangsang pembentukan antibodi dan kekebalan seluler yang spesifik terhadap kuman-kuman atau racun kuman tertentu, sehingga bekerja lebih cepat, efektif, dan efisien untuk mencegah penularan penyakit yang berbahaya. Selain diberi imunisasi, bayi harus diberi ASI eksklusif, makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang, kebersihan badan, makanan, minuman, pakaian, mainan, dan lingkungan. Suplemen diberikan sesuai kebutuhan individual yang bervariasi. Selain itu bayi harus diberikan kasih sayang dan stimulasi bermain untuk mengembangkan kecerdasan, kreatifitas dan perilaku yang baik.

    20. Imunisasi dan Konspirasi Zionisme di dalamnya.
    Tidak benar. Jika dirunut sejarah vaksin modern yang dilakukan oleh Flexner Brothers, dapat ditemukan bahwa kegiatan mereka dalam penelitian tentang vaksinasi pada manusia didanai oleh Keluarga Rockefeller. Di dunia internasional banyak yayasan sosial yang mendanai penelitian ilmiah tentang vaksin dan masalah kesehatan masyarakat lainnya. Memang Rockefeller sendiri adalah salah satu keluarga Yahudi yang paling berpengaruh di dunia tetapi sebenarnya mereka adalah pendiri WHO dan lembaga strategis lainnya (The UN's WHO was established by the Rockefeller family's foundation in 1948 - the year after the same Rockefeller cohort established the CIA. Two years later the Rockefeller Foundation established the U.S. Government's National Science Foundation, the National Institute of Health (NIH), and earlier, the nation's Public Health Service (PHS). Yayasan Rockefeller yang berdiri sejak tahun 1913 dan kredibilitasnya telah diakui dunia kesehatan Internasional yang berupaya meningkatkan kesehatan global dengan bekerja untuk mengubah sistem kesehatan sehingga lebih mudah diakses dan terjangkau masyarakat tidak mampu. Yayasan kesehatan dunia ini juga menghubungkan jaringan surveilans penyakit global untuk membantu mereka yang berjuang meminimalkan penyebaran penyakit menular yang dapat menyebabkan pandemi. Yayasan ini juga meningkatkan monitoring, deteksi dan respon terhadap penyakit menular seperti Ebola, SARS, dan flu burung untuk mencegah pandemi. Memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan perawatan kesehatan. Melibatkan sektor swasta untuk bekerja dengan sektor publik dalam mengembangkan praktik dan kebijakan untuk menyediakan dan mendanai pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin.

    Sikap orang tua dalam menghadapi kampanye hitam

    * Bila mendengar dan mengetahui kontroversi tersebut, maka pasti akan membingungkan masyarakat awam. Hal ini terjadi karena yang memberikan informasi yang tidak benar tersebut adalah para ahli kedokteran tetapi yang tidak berkompeten sesuai keahliannya. Untuk menyikapinya kita harus cermat dan teliti dan berpikiran lebih jernih. Kalau mengamati beberapa penelitian yang mendukung adanya berbagai kejadian berhubungan dengan imunisasi, mungkin benar sebagai pemicu atau sebagai co-accident atau kebetulan.

    * Penelitian yang menunjukkan hubungan keterkaitan imunisasi dan berbagai hal yang tidak benar hanya dilihat dalam satu kelompok kecil (populasi). Secara statistik hal ini hanya menunjukkan hubungan, tidak menunjukkan sebab akibat. Kita juga tidak boleh langsung terpengaruh pada laporan satu atau beberapa kasus, misalnya bila orang tua anak autism berpendapat bahwa anaknya timbul gejala autism setelah imunisasi. Kesimpulan tersebut tidak bisa digeneralisasikan terhadap anak sehat secara umum (populasi lebih luas). Kalau itu terjadi bisa saja kita juga terpengaruh oleh beberapa makanan yang harus dihindari oleh penderita autism juga juga akan dihindari oleh anak sehat lainnya. Jadi logika tersebut harus dicermati dan dimengerti.

    * Menanggapi tantangan tersebut, Prof Sri Rezeki Hadinegoro, Ketua Pelaksana Konferensi Vaksin Se-Asia 3 mengatakan, pemerintah bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melakukan pendekatan kepada ulama dan masyarakat untuk memberikan pemahaman yang benar. "Kami tidak melawan pemahaman kelompok antivaksin, tetapi jangan memutarbalikkan fakta pada masyarakat," kata Sri dalam acara jumpa pers pelaksanaan Konferensi Vaksinasi Asia Ke-3 di Jakarta, Kamis (28/7/2011).

    * Ketua Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menambahkan, masyarakat seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan keamanan dan kehalalan vaksin yang beredar. "Pemerintah menjamin semua vaksin yang beredar sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Pada kasus kontroversi vaksin meningitis untuk jemaah haji, kami mengikuti saran MUI," katanya.

    * Persoalan black campaign dari vaksin ternyata juga ditemui di negara-negara lain, misalnya di Filipina. Menurut Enrique Tayag, President of Philliphine Foundation for Vaccination, kelompok antivaksin juga menjadi tantangan. "Bagaimanapun masyarakat harus diingatkan manfaat vaksin untuk kesehatan anak jauh lebih besar daripada efek samping yang ditakutkan," katanya dalam kesempatan yang sama. Hambatan lain adalah munculnya kelompok-kelompok antivaksinasi yang menyebabkan kampanye hitam dengan membawa faktor agama dan budaya. Biasanya kelompok tertentu yang menyebarkan kampanye hitam imunisasi demi kepentingan pribadi khususnya dalam kepentingan bisnis terselubung yang mereka lakukan. Sebagian kelompok ini adalah yang dilakukan oleh oknum pelaku naturopathy, homeopathy, food combining, atau bisnis terapi herbal. Sebagian dari kelompok ini juga dilakukan oleh dokter bahkan beberapa profesor. Tetapi semuanya bukan berasal dari ahli medis, dokter atau profesior yang berkompeten di bidangnya seperti ahli kesehatan anak, ahli vaksin, ahli imunologi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak juga dokter atau profesor yang bergerak di bidang bisnis terapi alternatif atau non medis. Meski sebenarnya ilmu dan aliran terapi alternatif tersebut pada umumnya sangat baik, tetapi sayangnya sebagian kecil di antara mereka demi keberhasilan bisnis mereka mengorbankan kepentingan anak di dunia dengan menyebarkan informasi tidak benar dan menyesatkan.



    Benarkah imunisasi lumpuhkan generasi?
    Dr Piprim B Yanuarso SpA (K)
    Konsultan Kardiologi Anak Bagian Anak FKUI/RSCM Jakarta
    Pengurus PP IDAI, Jakarta
    Pencinta anak-anak dan ibunya anak-anak.


    Pendahuluan

    Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau melihat seminar dengan judul yang membuat mata seorang dokter terbelalak. "Imunisasi lumpuhkan generasi" atau "Wahai para orangtua bekali dirimu dengan pengetahuan tentang bahaya imunisasi". Sebagai seorang dokter saya lalu merenung, bila benar apa yang mereka serukan itu, betapa besar dosa saya sebagai dokter anak yang sering mengimunisasi bayi dan anak yang datang ke tempat praktek. Betapa jahatnya saya sebagai manusia karena telah mengimunisasi begitu banyak bayi dan anak selama ini, bahkan sejak saya masih sebagai dokter umum di puskesmas dahulu. Lalu saya merenung dan mencoba meneliti kembali permasalahan ini. Siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar? Dalam kontroversi yang memuat perbedaan 180 derajat ini, tidak mungkin kedua-duanya salah atau benar. Pasti salah satu benar dan yang lain salah. Dan saya khawatir bila selama ini sayalah yang bersalah itu. Saya sungguh khawatir jangan-jangan saya telah melumpuhkan begitu banyak generasi muda. Jangan-jangan saya telah melakukan dosa kemanusiaan yang sangat besar. Galau habis-habisan.
    Rasa galau itu membuat saya membuka-buka literatur dan data yang ada tentang permasalahan imunisasi. Saya mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan seruan yang menentang keras imunisasi. Suatu pernyataan yang sangat bertolak belakang dengan yang selama ini saya pelajari bahwa imunisasi itu suatu tindakan preventif yang amat bermanfaat buat kemanusiaan. Di lain pihak kegalauan saya juga semakin menjadi bila mengingat andai seruan tersebut kemudian menyebar ke masyarakat luas lalu apa yang akan terjadi dengan bayi-bayi mungil tak berdosa itu di kemudian hari? Mungkinkah penyakit-penyakit berat yang dapat dicegah dengan imunisasi akan bangkit kembali dari kuburnya gara-gara seruan itu? Masalah ini justru menimbulkan kegalauan lebih dalam bagi saya.

    Apakah sebenarnya imunisasi itu?

    Sebelum melangkah lebih jauh mari kita bahas sekilas apakah yang dimaksud dengan imunisasi. Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak terpajan pada penyakit tersebut ia tidak menjadi sakit. Kekebalan yang diperoleh dari imunisasi dapat berupa kekebalan pasif maupun aktif. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan pasif disebut imunisasi pasif, dengan cara memberikan antibodi atau faktor kekebalan kepada seseorang yang membutuhkan. Contohnya adalah pemberian imunoglobulin spesifik untuk penyakit tertentu, misalnya imunoglobulin antitetanus untuk penyakit tetanus. Contoh lain adalah kekebalan pasif alamiah antibodi yang diperoleh janin dari ibu. Kekebalan jenis ini tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Kekebalan aktif dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen secara alamiah atau melalui imunisasi. Imunisasi yang diberikan untuk memperoleh kekebalan aktif disebut imunisasi aktif dengan memberikan zat bioaktif yang disebut vaksin, dan tindakan itu disebut vaksinasi. Kekebalan yang diperoleh dari vaksinasi berlangsung lebih lama dari kekebalan pasif karena adanya memori imunologis, walaupun tidak sebaik kekebalan aktif yang terjadi karena infeksi alamiah. Untuk memperoleh kekebalan aktif dan memori imunologis yang efektif maka vaksinasi harus mengikuti cara pemakaian dan jadwal yang telah ditentukan melalui bukti uji klinis yang telah dilakukan. Tujuan imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan penyakit tersebut pada sekelompok masyarakat (populasi), atau bahkan menghilangkannya dari dunia seperti kita lihat pada keberhasilan imunisasi cacar variola. Keadaan terakhir ini lebih mungkin terjadi pada jenis penyakit yang hanya dapat ditularkan melalui manusia, seperti penyakit difteri dan poliomielitis. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan seumur hidup dan akan menjadi beban bagi masyarakat di kemudian hari. Sampai saat ini terdapat 19 jenis vaksin untuk melindungi 23 PD3I di seluruh dunia dan masih banyak lagi vaksin yang sedang dalam penelitian.

    Adakah bukti bahwa imunisasi bermanfaat ?

    Pertanyaan selanjutnya yang perlu dijawab adalah adakah manfaat imunisasi? Ataukah imunisasi hanya bikin mudhorot (keburukan) buat kemanusiaan? Untuk menjawab pertanyaan ini saya kemudian menelaah berbagai data status kesehatan masyarakat sebelum dan sesudah ditemukannya imunisasi di berbagai negara. Namun saya ingin menampilkan data dari negara maju seperti Amerika Serikat, karena kelompok antiimunisasi selalu menuduh bahwa imunisasi adalah sebuah proyek konspirasi dari negara ini untuk melumpuhkan generasi muda di seluruh dunia.
    Sebelum adanya vaksin polio, terdapat 13.000 - 20.000 (16.316) kasus lumpuh layuh akut akibat polio dilaporkan setiap tahun di AS meninggalkan ribuan korban penderita cacat karena polio yang mesti menggunakan tongkat penyangga atau kursi roda. Saat ini AS dinyatakan bebas kasus polio. Angka penurunan mencapai 100%.
    Sebelum adanya imunisasi campak, 503.282 kasus campak terjadi setiap tahun dan 20% di antaranya dirawat dengan jumlah kematian mencapai 450 orang pertahun akibat pneumonia campak. Setelah ada imunisasi campak kasus menurun hingga 55 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.
    Sebelum ditemukan imunisasi difteri terjadi 175.885 kasus difteri per tahun dengan angka kematian mencapai 15.520 kasus. Setelah imunisasi ditemukan tahun 2001 jumlahnya menurun menjadi 2 kasus dan tahun 2006 tidak ada lagi laporan kasus difteri. Angka penurunan mencapai 100%
    Sebelum tahun 1940an terdapat 150.000-260.000 kasus pertussis setiap tahun dengan angka kematian mencapai 9000 kasus setahun. Setelah imunisasi pertussis ditemukan angka kematian menurun menjadi 30 kasus setahun. Namun dengan seruan antiimunisasi yang marak di AS terjadi lagi peningkatan kasus secara signifikan di beberapa negara bagian. Pada 8 negara bagian terjadi peningkatan kasus 10-100 kali lipat pada saat cakupan imunisasi pertussis menurun drastis.
    Sebelum vaksin HiB ditemukan, HiB nerupakan penyebab tersering meningitis bakteri (radang selaput otak) di AS, dengan 20.000 kasus per tahun. Meningitis HiB menyebabkan kematian 600 anak pertahun dan meninggalkan kecacatan berupa tuli, kejang, dan retardasi mental pada anak yang selamat. Pada tahun 2006 kasus meningitis HIB menurun menjadi 29 kasus. Angka penurunan 99.9%.
    Hampir 90% bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi Rubella saat hamil trimester pertama akan mengalami sindrom Rubella kongenital, berupa penyakit jantung bawaan, katarak kongenital, dan ketulian. Pada tahun 1964 sekitar 20.000 bayi lahir dengan sindrom Rubella kongenital ini, mengakibatkan 2100 kematian neonatal dan 11.250 abortus. Setelah adanya imunisasi hanya dilaporkan 6 kasus sindrom Rubella kongenital pada tahun 2000. Kasus Rubella secara umum menurun dari 47.745 kasus menjadi hanya 11 kasus pertahun pada tahun 2006. Angka penurunan 99.9%.
    Hampir 2 milyar orang telah terinfeksi hepatitis B suatu saat dalam hidupnya. Sejuta di antaranya meninggal setiap tahun karena penyakit sirosis hati dan kanker hati. Sekitar 25% anak-anak yang terinfeksi hepatitis B dapat diperkirakan akan meninggal karena penyakit hati pada saat dewasa. Terjadi penurunan jumlah kasus baru dari 450.000 kasus pada tahun 1980 menjadi sekitar 80.000 kasus pada tahun 1999. Penurunan terbanyak terjadi pada anak dan remaja yang mendapat imunisasi rutin.
    Di seluruh dunia penyakit tetanus menyebabkan kematian pada 300.000 neonatus dan 30.000 ibu melahirkan setiap tahunnya dan mereka tidak diimunisasi adekuat. Tetanus sangat infeksius namun tidak menular, sehingga tidak seperti PD3I yang lain, imunisasi pada anggota suatu komunitas tidak dapat melindungi orang lain yang tidak diimunisasi. Karena bakteri tetanus terdapat banyak di lingkungan kita, maka tetanus hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Bila program imunisasi tetanus distop, maka semua orang dari berbagai usia akan rentan menderita penyakit ini.
    Sekitar 212.000 kasus mumps (gondongan) terjadi di AS pada tahun 1964. Setelah ditemukannya vaksin mumps pada tahun 1967 insidens penyakit ini menurun menjadi hanya 266 kasus pada tahun 2001. Namun pada tahun 2006 terjadi KLB di kalangan mahasiswa, sebagian besar di antara mereka menerima 2 kali vaksinasi. Terjadi lebih dari 5500 kasus pada 15 negara bagian. Mumps merupakan penyakit yang sangat menular dan hanya butuh beberapa orang saja yang tidak diimunisasi untuk memulai transmisi penyakit sebelum menyebar luas.

    Sebelum vaksin pneumokokus ditemukan, pneumokokus menyebabkan 63.000 kasus invassive pneumococcal disease (IPD) dengan 6100 kematian di AS setiap tahun. Banyak anak yang menderita gejala sisa berupa ketulian dan kejang-kejang.

    Dari data di atas para ahli menyimpulkan bahwa imunisasi adalah salah satu di antara program kesehatan masyarakat yang paling sukses dan cost-effective . Program imunisasi telah menyebabkan eradikasi penyakit cacar (variola, smallpox), eliminasi campak dan poliomielitis di berbagai belahan dunia. dan penurunan signifikan pada morbiditas dan mortalitas akibat penyakit difteri, tetanus, dan pertussis. Badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2003 memperkirakan 2 juta kematian anak dapat dicegah dengan imunisasi. Katz (1999) bahkan menyatakan bahwa imunisasi adalah sumbangan ilmu pengetahuan yang terbaik yang pernah diberikan para ilmuwan di dunia ini.


    Miskonsepsi tentang imunisasi

    Meskipun imunisasi telah terbukti banyak manfaatnya dalam mencegah wabah dan PD3I di berbagai belahan dunia, namun masih terdapat sebagian orang yang memiliki miskonsepsi terhadap imunisasi. Secara umum berikut ini adalah beberapa miskonsepsi yang sering terjadi di masyarakt:

    A. Penyakit-penyakit tersebut (PD3I) sebenarnya sudah mulai menghilang sebelum vaksin ditemukan karena meningkatnya higiene dan sanitasi.
    Pernyataan sejenis ini dan variasinya sangat banyak dijumpai pada literatur antivaksin. Namun bila melihat insidens aktual PD3I sebelum dan sesudah ditemukannya vaksin kita tidak lagi meragukan manfaat vaksinasi. Sebagai contoh kita lihat kasus meningitis HiB di Canada. Higiene dan sanitasi sudah dalam keadaan baik sejak tahun 1990, namun kejadian meningitis HiB sebelum program imunisasi dilaksanakan mencapai 2000 kasus per tahun dan setelah imunisasi rutin dijalankan menurun menjadi 52 kasus saja dan mayoritas terjadi pada bayi dan anak yang tidak diimunisasi. Contoh lain adalah pada 3 negara maju (Inggris, Swedia, dan Jepang) yang menghentikan program imunisasi pertussis karena ketakutan terhadap efek samping vaksin pertussis. Di Inggris tahun 1974 cakupan imunisasi menurun drastis dan diikuti dengan terjadinya wabah pertussis pada tahun 1978, ada 100.000 kasus pertussis dengan 36 kematian. Di Jepang pada kurun waktu yang sama cakupan imunisasi pertussis menurun dari 70% menjadi 20-40% hal ini menyebabkan lonjakan kasus pertussis dari 393 kasus dengan 0 kematian menjadi 13.000 kasus dengan 41 kematian karena pertussis pada tahun 1979. Di Swedia pun sama, dari 700 kasus pada tahun 1981 meningkat menjadi 3200 kasus pada tahun 1985. Pengalaman tersebut jelas membuktikan bahwa tanpa imunisasi bukan saja penyakit tidak akan menghilang namun juga akan hadir kembali saat program imunisasi dihentikan.

    B. Mayoritas anak yang terkena penyakit justru yang sudah diimunisasi.
    Pernyataan ini juga sering dijumpai pada literatur antivaksin. Memang dalam suatu kejadian luar biasa (KLB) jumlah anak yang sakit dan pernah diimunisasi lebih banyak daripada anak yang sakit dan belum diimunisasi. Penjelasan masalah tersebut sebagai berikut: pertama tidak ada vaksin yang 100% efektif. Efektivitas sebagian besar vaksin pada anak adalah sebesar 85-95%, tergantung respons individu. Kedua: proporsi anak yang diimunisasi lebih banyak daripada anak yang tidak diimunisasi di negara yang menjalankan program imunisasi. Bagaimana kedua faktor tersebut berinteraksi diilustrasikan dalam contoh berikut. Suatu sekolah mempunyai 1000 murid. Semua murid pernah diimunisasi campak 2 kali kecuali 25 yang tidak pernah sama sekali. Ketika semua murid terpapar campak, 25 murid yang belum diimunisasi semuanya menderita campak. Dari kelompok yang telah diimunisasi campak 2 kali, sakit 50 orang. Jumlah seluruh yang sakit 75 orang dan yang tidak sakit 925 orang. Kelompok antiimunisasi akan mengatakan bahwa persentase murid yang sakit adalah 67 % (50/75) dari kelompok yang pernah imunisasi, dan 33% (25/75) dari kelompok yang tidak diimunisasi. Padahal bila dihitung dari efek proteksi, maka imunisasi memberikan efek proteksi sebesar (975-25)/975 = 94.8%. Yang tidak diimunisasi efek proteksi sebesar 0/25= 0%. Dengan kata lain, 100% murid yang tidak mendapat imunisasi akan sakit campak; dibanding hanya 5,2% dari kelompok yang diimunisasi yang terkena campak. Jelas bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak.

    C. Vaksin menimbulkan efek samping yang berbahaya, kesakitan, dan bahkan kematian
    Vaksin merupakan produk yang sangat aman. Hampir semua efek simpang vaksin bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri pada bekas suntikan atau demam ringan. Kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) secara definitif mencakup semua kejadian sakit pasca imunisasi. Prevalensi dan jenis sakit yang tercantum dalam KIPI hampir sama dengan prevalensi dan jenis sakit dalam keadaan sehari-hari tanpa adanya program imunisasi. Hanya sebagian kecil yang memang berkaitan dengan vaksin atau imunisasinya, sebagian besar bersifat koinsidens. Kematian yang disebabkan oleh vaksin sangat sedikit. Sebagai ilustrasi semua kematian yang dilaporkan di Amerika sebagai KIPI pada tahun 1990-1992, hanya 1 yang mungkin berhubungan dengan vaksin. Institut of Medicine (IOM) tahun 1994 menyatakan bahwa risiko kematian akibat vaksin adalah amat rendah (extra-ordinarily low). Besarnya risiko harus dibandingkan dengan besarnya manfaat vaksin. Bila satu efek simpang berat terjadi dalam sejuta dosis vaksin namun tidak ada manfaat vaksin, maka vaksin tersebut tidak berguna. Manfaat imunisasi akan lebih jelas bila risiko penyakit dibandingkan dengan risiko vaksin.

    Contoh vaksin MMR (melindungi campak, mumps (gondongan) dan rubella (campak jerman)
    pneumonia campak : risiko kematian 1:3000 risiko alergi berat MMR 1:1000.000
    Ensefalitis mumps : 1 : 300 pasien mumps, risiko ensefalitis MMR 1:1000.000
    Sindrom rubella kongenital : 1 : 4 bayi dari ibu hamil kena rubella

    Contoh vaksin DPaT (melindungi difteri, pertussis, dan tetanus)
    Difteri : risiko kematian 1 : 20, risiko menangis lama sementara 1 : 100
    Tetanus : risiko kematian 1 : 30, risiko kejang sembuh sempurna 1 : 1750
    Pertussis : risiko ensefalitis pertussis 1 : 20, risiko ensefalitis DPaT 1 : 1000.000


    D. Penyakit penyakit tersebut (PD3I) telah tidak ada di negara kita sehingga anak tidak perlu diimunisasi
    Angka kejadian beberapa penyakit yang termasuk PD3I memang telah menurun drastis. Namun kejadian penyakit tersebut masih cukup tinggi di negara lain. Siapa pun termasuk wisatawan dapat membawa penyakit tersebut secara tidak sengaja dan dapat menimbulkan wabah. Hal tersebut serupa dengan KLB polio di Indonesia pada tahun 2005 lalu. Sejak tahun 1995 tidak ada kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar. Pada bulan April 2005, Laboratorium Bioofarma di Bandung mengkonfirmasi adanya virus polio liar tipe 1 pada anak berusia 18 bulan yang menderita lumpuh layuh akut pada bulan Maret 2005. Anak tersebut tidak pernah diimunisasi sebelumnya. Virus polio itu selanjutnya menyebabkan wabah merebak ke 10 propinsi, 48 kabupaten. Sampai bulan April 2006 tercatat 349 kasus polio, termasuk 46 kasus VDVP (vaccine derived polio virus) di Madura. Dari analisis genetik virus diketahui bahwa virus berasal dari Afrika barat. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa virus sampai ke Indonesia melalui Nigeria dan Sudan sama seperti virus yang diisolasi di Arab Saudi dan Yaman. Dari pengalaman tersebut terbukti bahwa anak tetap harus mendapat imunisasi karena dua alasan. Alasan pertama adalah anak harus dilindungi. Meskipun risiko terkena penyakit adalah kecil, bila penyakit masih ada, anak yang tidak terproteksi tetap berpeluang terinfeksi. Alasan kedua imunisasi anak penting untuk melindungi anak lain di sekitarnya. Terdapat sejumlah anak yang tak dapat diimunisasi (misalnya karena alergi berat terhadap komponen vaksin) dan sebagian kecil anak yang tidak memberi respons terhadap imunisasi. Anak-anak tersebut rentan terhadap penyakit dan perlindungan yang diharapkan adalah dari orang-orang di sekitarnya yang tidak sakit dan tidak menularkan penyakit kepadanya.

    E. Pemberian vaksin kombinasi (multipel) meningkatkan risiko efek simpang yang berbahaya dan dapat membebani sistem imun
    Anak-anak terpapar pada banyak antigen setiap hari. Makanan dapat membawa bakteri yang baru ke dalam tubuh. Sistem imun juga akan terpapar oleh sejumlah bakteri hidup di mulut dan hidung. Infeksi saluran pernapasan bagian atas akan menambah paparan 4-10 antigen, sedangkan infeksi streptokokus pada tenggorokan memberi paparan 25-50 antigen. Tahun 1994 IOM menyatakan bahwa dalam keadaan normal penambahan jumlah antigen dalam vaksin tidak mungkin akan memberikan beban tambahan pada sistem imun dan tidak bersifat imunosupresif. Data penelitian menunjukkan bahwa imunisasi simultan dengan vaksin multipel tidak membebani sistem imun anak normal. Pada tahun 1999 Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP), American Academy of Pediatrics (AAP), dan American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasi pemberian vaksin kombinasi untuk imunisasi anak. Keuntungan vaksin kombinasi adalah mengurangi jumlah suntikan, mengurangi biaya penyimpanan dan pemberian vaksin, mengurangi jumlah kunjungan ke dokter, dan memfasilitasi penambahan vaksin baru ke dalam program imunisasi.

    F. Vaksin MMR menyebabkan autisme
    Beberapa orangtua anak dengan autisme percaya bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dengan autisme. Gejala khas autisme biasanya diamati oleh orangtua saat anak mulai tampak gejala keterlambatan bicara setelah usia lewat satu tahun. Vaksin MMR diberikan pada usia 15 bulan (di luar negeri 12 bulan). Pada usia sekitar inilah biasanya gejala autisme menjadi lebih nyata. Meski pun ada juga kejadian autisme mengikuti imunisasi MMR pada beberapa kasus. Akan tetapi penjelasan yang paling logis dari kasus ini adalah koinsidens. Kejadian yang bersamaan waktu terjadinya namun tidak terdapat hubungan sebab akibat. Kejadian autisme meningkat sejak 1979 yang disebabkan karena meningkatnya kepedulian dan kemampuan kita mendiagnosis penyakit ini, namun tidak ada lonjakan secara tidak proporsional sejak dikenalkannya vaksin MMR pada tahun1988.
    Pada tahun 2000 AAP membuat pernyataan : "Meski kemungkinan hubungan antara vaksin MMR dengan autisme mendapat perhatian luas dari masyarakat dan secara politis, serta banyak yang meyakini adanya hubungan tersebut berdasarkan pengalaman pribadinya, namun bukti-bukti ilmiah yang ada tidak menyokong hipotesis bahwa vaksin MMR menyebabkan autisme dan kelainan yang berhubungan dengannya. Pemberian vaksin measles, mumps, dan rubella secara terpisah pada anak terbukti tidak lebih baik daripada pemberian gabungan menjadi vaksin MMR, bahkan akan menyebabkan keterlambatan atau luput tidak terimunisasi. Dokter anak mesti bekerjasama dengan para orangtua untuk memastikan bahwa anak mereka terlindungi saat usianya mencapai 2 tahun dari PD3I. Upaya ilmiah mesti terus dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti dari autisme. Lembaga lain yaitu CDC dan NIH juga membuat pernyataan yang mendukung AAP. Pada tahun 2004 IOM menganalisis semua penelitian yang melaporkan adanya hubungan antara vaksin MMR dengan autisme. Hasilnya adalah tidak satu pun penelitian itu yang tidak cacat secara metodologis. Kesimpulan IOM saat itu adalah tidak terbukti ada hubungan antara vaksin MMR dengan autisme.

    Penutup

    Setelah mengkaji berbagai literatur sebagaimana disebutkan di atas, maka secara berangsur kegalauan saya menghilang. Saya semakin yakin akan kebenaran teori ilmiah berbasis bukti yang sudah ditemukan para ahli. Bahkan beberapa waktu lalu ada sejawat saya Dr Julian Sunan, seorang dokter yang masih muda dan amat ganteng (menurut pengakuannya sendiri) telah menelaah bahwa ternyata tokoh-tokoh antivaksin yang sering dikutip kelompok antivaksin di Indonesia ternyata banyak yang fiktif. Mereka melakukan pemelintiran data dan pemutarbalikan fakta. Tak heran kalau yang sangat aman dianggap sangat berbahaya dan penyakit sangat berbahaya nan mematikan dianggap tidak apa apa dan mungkin malah diajak bersahabat karib oleh kelompok antiimunisasi. Terimakasih.


    Bahan bacaan :

    Ranuh IGNG, Suyitno H, Hadinegoro SRS, Kartasasmita CB, Ismoedijanto, Soedjatmiko. Buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, edisi ke-4. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta 2011.
    Center for Disease Control http://www.cdc.gov
    Gangarosa EJ, et al. Impact of anti-vaccine movements on pertussis control: the untold story. Lancet 1998;351:356-61.
    Am. Acad. Ped. When Parents Refuse to Immunize Their Children. PEDIATRICS Vol. 115 No. 5 May 2005, pp. 1428-1431 (doi:10.1542/peds.2005-0316)
    Diekema DS and the Committee on Bioethics. Responding to Parental Refusals of Immunization of Children. Pediatrics 2005;115:1428–1431
    Halsey NA and others. Measles-mumps-rubella vaccine and autistic spectrum disorder: Report from the New Challenges in Childhood Immunizations Conference Convened in Oak Brook, Illinois, June 12-13, 2000. Pediatrics 107(5):E84, 2001.
    National Network for Immunization Information http://www.immunizationinfo.org/
    http://juliansunan.blogspot.com/ Bahaya imunisasi, telaah tahap 1 dan tahap 2



    APAKAH VAKSIN AMAN ?

    Oleh Dr. Dirga Sakti Rambe (@dirgarambe)

    Sebagai orang yang peduli terhadap kesehatan, terutama kita sebagai orangtua yang sangat memperhatikan kesehatan anak, seyogyanya kita memperhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuh. Asupan itu bisa berbentuk makanan, minuman, maupun zat-zat lain yang berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh, semisal vaksin.
    Apakah ia halal? Apakah ia juga aman sehingga terkategori sebagai thayyib (baik)?

    Kita bisa memastikan suatu asupan itu halal dari zat maupun proses pembuatan/terbentuknya. Kita juga bisa memastikan asupan tersebut thayyib/baik, dari kandungan, nilai gizi, dan sebagainya. Termasuk juga vaksin dalam proses vaksinasi, yang kita lakukan sebagai bentuk penjagaan terhadap kesehatan tubuh.

    Pembahasan mengenai kehalalan vaksin sudah dibahas di artikel tersendiri. Sekarang kita akan membahasnya dari segi keamanan.

    Namun sebelum sampai pada pembahasan apakah vaksin itu aman atau tidak, kita perlu memahami logika berpikir dalam ilmu Kedokteran yang universal. Setiap tindakan/keputusan medis, selalu berdasar pada risk-benefit analysis (menimbang manfaat-mudharat). Tiap pilihan mengandung konsekuensi tersendiri. Sama saja sebagaimana setiap saat dalam kehidupan, kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mengandung risiko, dimana memutuskannya harus secara rasional dan sekaligus menggunakan hati.

    Contoh sederhana, kita kelaparan di rumah dan harus ke warung untuk membeli nasi. Risiko tetap di rumah : kelaparan dan sakit. Risiko ke warung: ditabrak mobil saat menyeberang jalan.

    Mana yang Anda pilih, tetap di rumah atau pergi ke warung? Saya yakin 99% ke warung. Risiko kelaparan  lebih nyata dan besar daripada risiko ditabrak. Setuju?

    Kembali ke topik. Apakah vaksin aman atau tidak?

    Pertanyaan ini menimbulkan pertanyaan dasar, apakah yang dimaksud dengan vaksin yang aman?
    Bila yang kita maksudkan, vaksin yang aman adalah tanpa kemungkinan efek samping 100%, maka kita mendefinisikan aman secara keliru. Adakah produk medis (obat, operasi, Vaksin, dll) yang 100% pasti tanpa efek samping? Mau produk herbal atau apapun, sama saja! Tetap ada risikonya.

    Definisi “keamanan” (safety) dalam konteks produk medis adalah the relative freedom from harmful effect to persons affected directly or indirectly by a product when prudently administered, taking into consideration the character of the product in relation to the condition of the recipient at the time. Thus, safety is relative and relational, it depends on the benefit/risk assessment at a particular point in time, the specific indication, and the intended recipient

    Adakah tindakan/keputusan dalam keseharian kita yang tak mengandung risiko? Yang sifatnya pasti-pasti tentu hanya milik Allah SWT. Sementara kita sebagai manusia wajib berikhtiar.

    Vaksinasi adalah ikhtiar/usaha manusia mencegah penyakit infeksi. Mayoritas penyakit-penyakit ini fatal, bisa menyebabkan kecacatan dan kematian.

    Banyak sekali data yang menunjukkan keberhasilan vaksin dalam mencegah penyakit infeksi. Bahkan penyakit Smallpox musnah total dari muka bumi karena Vaksin. Sebaliknya, saat cakupan vaksinasi di suatu daerah menurun, penyakit-penyakit yang tersedia vaksinnya ini seketika mewabah.

    Mari kita analisis data US CDC 2011 yang merupakan penelitian selama puluhan tahun. Data itu fakta dan ilmiah. Mengapa saya tekankan, karena ada banyak sekali informasi yang bertebaran di internet/hasil Googling yang belum tentu dapat dipercaya. Bacalah dari sumber yang terpercaya, mengingat tidak semua artikel dari Google itu benar. Perlu kehati-hatian dalam menyaring informasi agar tidak salah memahami apalagi bersikap dan bertindak.

    Kita perlu memahami bagaimana sistem Imunitas tubuh kita bekerja.



    Setelah membaca data CDC di atas, kira-kira mana yang lebih layak dipercaya, blog/artikel majalah, atau jurnal ilmiah/textbook dari para ahli di bidang tersebut?

    Sekarang kita pertajam lagi dengan membandingkan “Risiko    kena penyakit” Vs “Risiko    efek samping vaksin”. Vaksin memiliki efek samping yang dikenal dengan KIPI (Kejadian Ikutan PascaImunisasi) / AEFI (Adverse Events Following Immunizations). Vaksin diberikan kepada orang sehat, sehingga keamanannya harus mencapai “the highest possible standards”, tanpa kompromi. Pembuatan 1 jenis vaksin perlu waktu 8-15 tahun, melalui uji praklinis & uji klinis fase 1-2-3-4 yang melelahkan. Tujuannya hanya satu : keamanan.

    KIPI didefinisikan sebagai segala kejadian medik yang terjadi setelah Imunisasi, bahkan sebelum dipastikan terdapat hubungan sebab-akibatnya atau tidak. Sekali lagi kita perhatikan, bahkan yang  belum tentu memiliki hubungan sebab-akibat dengan vaksin, dimasukkan juga sebagai KIPI, untuk dikonfirmasi kemudian. Ini bukti bahwa standar keamanan vaksin tinggi sekali. Contoh sederhananya, seorang anak diberikan permen oleh temannya di sekolah. Lalu ia pulang. Di jalan, ia ditabrak mobil. Apakah permen yang menyebabkan ia ditabrak?

    Tidak semua KIPI disebabkan oleh vaksin. Suatu kejadian terjadi pasca vaksinasi mungkin saja digolongkan sebagai ‘koinsidens’ (terjadi secara kebetulan dalam waktu bersamaan), sehingga memerlukan investigasi.  99,3% KIPI ini ringan, misalnya yang paling sering adalah nyeri lokal di tempat suntikan dan demam. Itu sebabnya kita tidak perlu ketakutan berlebihan.
    Demam akibat vaksinasi umumnya tidak tinggi. Demam bukanlah bukti bahwa vaksin tidak aman, namun demm adalah pertanda bahwa sistem imun tubuh bekerja sehingga kita tak perlu panik. Bila suhu tubuh mencapai lebih dari 38,5 derajat C, dapat diberikan Parasetamol.

    Lebih jauh lagi, mari kita lihat perbandingan data  “risiko  kena penyakit” Vs “risiko efek samping vaksin”. Saya beri contoh beberapa penyakit KIPI yang berat (karena KIPI ringan seperti demam, nyeri dll, seharusnya tidak menjadi masalah).

    • Penyakitt DIFTERI menyebabkan 1 KEMATIAN dalam 20 kasus (1:20). KIPI Vaksin DTP: Alergi berat 1: 50.000. #Aman http://t.co/iRuU6nxI
    • Penyakit TETANUS menyebabkan 2 KEMATIAN dalam 10 kasus (2:10). KIPI Vaksin DTP: Kejang 1: 14.000. #Aman http://t.co/5YJWrRGz
    • Penyakit CAMPAK menyebabkan 1 RADANG OTAK dalam 1000 kasus (1:20). KIPI Vaksin MMR: Alergi berat 1: 1.000.000. #Aman http://t.co/3yJnoxpQ
    • Penyakit POLIO menyebabkan 1 KELUMPUHAN dalam 50 kasus (1:50). KIPI Vaksin Polio: VAPP 1: 3.400.000. #Aman http://t.co/2lyCapSB

    Angka kemungkinan terjadinya KIPI diperoleh dari penelitian puluhan tahun. Silakan bandingkan dengan risiko kena penyakitnya.

    Dari data di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa :
    1. Vaksin adalah USAHA kita utk mencegah penyakit infeksi yang dpt berakibat kematian
    2. Vaksin yang aman BUKAN berarti 100% tanpa efek samping. Setiap produk medis & apapun keputusan dalam hidup, mengandung Risiko    
    3. Vaksin yang aman : risiko terkena penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin JAUH LEBIH BESAR daripada risiko efek samping vaksin
    4.  Vaccines’ benefits clearly and definitively outweigh their risks. 

    Demikian penjelasan saya mengenai keamanan vaksin. Semoga bermanfaat.


    Vaksinasi: renungan panjang sebuah kebimbangan
    Penulis : Dr Annisa Rohima Karnadi

    Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang
    Tulisan berikut ini memang benar-benar panjang sesuai judulnya merupakan hasil ringkasan data disana-sini masih terkait isu vaksin yang meresahkan hati, jiwa, pikiran hingga membuat kepala kami ikutan pening. Sebagai orang tua tentu saja kami ingin memastikan vaksin yang memasuki tubuh anak kami adalah bahan yang halal dan thoyyib. Tulisannya sangat panjang memang, maklum ini merangkum isu yang ada yang berhembus tentang vaksinasi.
    Q: Apakah vaksin itu halal?
    Isu kehalalan vaksin dipertanyakan sebab adanya enzim tripsin babi yang digunakan sebagai katalisator. Sebagai seorang Muslim yang diwajibkan menjaga diri dari barang haram sekaligus dokter yang memahami pentingnya vaksinasi  tentu saja isu ini sangat meresahkan saya. Alhamdulillah banyak ustadz yang berkompeten di bidang agama dengan pemahaman yang benar dan ilmu kedokteran yang mendalam. Berikut rangkuman dari data yang saya miliki terhadap status vaksin dimata syariat.
    Menanggapi penggunaan unsur babi dalam vaksin, ulama ada dua pendapat, yaitu:
    Para ulama yang menganut madzhab Syafi’iyyah melarang penggunaan unsur dari babi, namun jika kondisinya darurat dan tidak ada alternatif lain maka hukumnya mubah. Larangan ini berdasarkan al qur’an dalam ayat Q.S 2: 173, 5: 3, dll.
     Para ulama yang menganut madzhab Hambaliyah tidak mempermasalahkan dengan berpedoman pada kaidah fiqih yang disebut ISTIHALAH, yaitu menghalalkan bahan yang semua haram karena telah berubah sifat. Enzim tripsin berbeda dengan daging babi, sehingga ulama-ulama tidak mempermasalahkannya.
    Ibnul Qayyim berpendapat, “Sesungguhnya benda suci apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.” [15]
    Bisa kita ambil contoh benda yang tadinya halal menjadi haram seperti beras berubah menjadi sake atau makanan yang menjadi kotoran. Sementara itu contoh benda haram menjadi halal seperti kotoran dan kencing binatang berubah menjadi biogas atau nira kelapa difermentasi menjadi tuak (khamr) lalu berubah lagi menjadi cuka. Sifat benda sekarang yang menjadi patokan bukan benda asalnya.

     Dalam salah satu kaidah fiqih disebutkan bahwa, "Mendapatkan manfaat yg lebih besar itu lebih utama utk dilakukan daripada meninggalkan madlorot yg lebih kecil."
    Contoh aplikasi kaidah ini adalah:
    Kasus ekstrim, dimana kita terdampar di sebuah pulau dan tdk ada makanan selain babi, maka kita diijinkan memakan babi tersebut selama kita sekedar mempertahankan hidup, tidak menginginkannya, dan tidak melampaui batas. Jika ada bahan makanan lain, maka kita harus memilih yg lebih halal.
    Rujukan kasus darurat ini adalah QS. Al Baqoroh (2):173. Batasan darurat itu:
    a. Tidak ada bahan makanan yang lain
    b. Sekedar untuk menyambung hidup
    c. Tidak berlebihan, tidak menikmati, tidak menginginkannya
    d. Jika ditemukan bahan lain yang lebih halal, maka HARUS memilih yang lebih halal, dan bahan haram tadi HARUS ditinggalkan.

     Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah [sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/238] dan Majelis Ulama Eropa [Disarikan dari http://www.islamfeqh.com/Forums.aspx?g=posts&t=203] memperbolehkan vaksinasi jika mengkhawatirkan tertimpa penyakit akibat wabah-wabah atau sebab lainnya. Dan di antara tujuan syari’at adalah menggapai maslahat dan manfaat serta menghilangkan mafsadat dan bahaya.
    Ada kaidah begini: siapa yang percaya mutlak kepada sebab dia syirik, siapa yang tidak percaya mutlak kepada sebab dia kufur.
    Misal: orang yang percaya 100% bahwa vaksinasi PASTI melindungi anak dari penyakit lupa bahwa Allah lah yang menurunkan penyakit, sehingga tidak pernah berdoa kepada Allah minta perlindungan dari penyakit (karena 100% mengandalkan vaksinasi) maka dia syirik. Sudah menuhankan vaksinasi.
    Sebaliknya: orang yang tidak mau berikhtiar sama sekali, termasuk tidak mau vaksinasi, tidak mau berobat, dll karena tidak percaya mutlak kepada sebab dan hanya bilang bahwa saya percaya akan takdir Allah, kalo ditakdirkan sakit ya pasti sakit, kalo sehat ya pasti sehat, sama dengan paham fatalistik, maka dia sudah kufur (Al Islam, Said Hawwa).
    Di Indonesia hanya ada 3 vaksin dengan tripsin babi yaitu meningitis, polio injeksi dan rotavirus. Sementara vaksin meningitis produksi China dan Italia telah mendapatkan label halal dari MUI. Untuk vaksin polio bisa dipilih polio oral (OPV) apalagi Indonesia belum dinyatakan bebas polio. Vaksin rotavirus bisa digunakan produksi Jepang yang menggunakan kelinci.
    Proses pembuatan vaksin berbeda dari pembuatan obat puyer dimana semua bahan dicampur dalam satu wadah lalu digerus bersamaan sehinggi semua bahan tercampur. Proses pembuatan vaksin skala industri menggunakan industrial plants yang kompleks dan terintergrasi. Produksi vaksin meliputi tahap sebagai berikut:
    a. Produksi seed (parent seed, master seed, dan working seed)
    b. Fermentasi working seed
    c. Isolasi antigen vaksin
    d. Purifikasi (pemurnian) polisakarida vaksin.
    Dalam setiap tahap bahan baku untuk tahap tertentu tidak akan bersinggungan dengan tahapan berikutnya.
    Perlu untuk diketahui peranan tripsin babi sendiri di dalam vaksin. Sel bakteri yang digunakan untuk vaksin memiliki dinding berupa protein. Enzim tripsin babi hanya berfungsi sebagai gunting untuk memotong rantai panjang protein menjadi peptida rantai pendek yaitu asam amino. Setelah mengalami fermentasi sel-sel bakteri ini akan dipecah dan polisakarida yang ada di sebelah dalam dinding bakteri tersebut diambil. Polisakarida inilah yang digunakan sebagai antigen dalam vaksin. Jadi, antigen yang digunakan dalam vaksin ini tidak bersinggungan baik langsung maupun tidak langsung dengan enzim tripsin babi.
    Polisakarida tersebut juga melewati proses pemurnian (purifikasi) dengan cara pencucian dan pengenceran working seed. Pencucian working seed terjadi 1 : 67,5 milyar kali, jadi dicuci dan diencerkan sebanyak 67,5 milyar kali. Keputusan hukum PP Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama no 04 th 2010 tentang vaksin meningitis: pensuciannya sesuai untuk najis berat. Enzim tripsin berperan sebagai katalisator yang mempercepat reaksi hingga seribu kali. Tanpa biokatalisator tripsin ini reaksi akan berjalan sangat lambat, bahkan bisa bertahun-tahun sehingga tidak efektif.
    Saat ini para ilmuwan sedang terus mencoba untuk mengembangkan metode lain, seperti membuat vaksin dengan media tumbuhan. Namun, menciptakan teknologi tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bisa jadi nanti anak-anak kita yang cerdas dan sehat ini yang akan memperbaiki teknologi ini bukan?
    Kesimpulan: vaksinasi mubah silahkan jika ingin melakukan vaksinasi jika sesuai dengan keyakinan.
    Sumber:
    Konferensi ulama yang diselenggarakan WHO http://www.immunize.org/concerns/porcine.pdf

    Prof DR Umar Anggara Jenie, guru besar Farmasi UGM dalam kultwit vaksin halal dan thoyyibah http://chirpstory.com/li/10761

     Q: Apakah vaksin menyebabkan autisme?
    Isu vaksin menyebabkan autis selalu meresahkan para orang tua. Isu ini berawal dari seorang dokter ahli bedah, Andrew Wakefield, membuat penelitian yang hasil akhirnya membuktikan vaksin MMR menyebabkan autisme. Penelitian ini dilakukan pada tahun 1998 diterbitkan di jurnal kedokteran yang terpercaya yaitu The Lancet dan diumumkan secara besar-besaran. Dunia geger dan orang tua di seluruh dunia mengalami kepanikan menolak vaksinasi terutama MMR.
    Para ilmuwan dan WHO tidak tinggal diam, dilakukan penelitian yang sistemastis dengan banyak sampel. Dari penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia, sebelas penelitian besar membuktikan bahwa MMR tidak menyebabkan autisme dan enam penelitian besar berhasil membuktikan keamanan thimerosal.
    Setelah ditelusuri ternyata Wakefield menerima suap jutaan dollar untuk membuat penelitian rekayasa yang menghasilkan merk vaksin MMR yang digunakan saat itu menyebabkan autisme. Penelitian Wakefield ini hanya melibatkan 12 anak yang tentunya sangat tidak mewakili komunitas masyarakat di seluruh belahan dunia. Penelitian ini juga terbukti tidak disetujui oleh Komite Etik tempatnya bekerja dan dicemari dengan pemalsuan data.
    Pada tahun 2005 The Lancet mulai menarik artikelnya dan keterangan tentang ketidakbenaran penelitian ini telah diumumkan secara resmi di jurnal resmi kedokteran Inggris yang sangat berpengaruh di dunia kedokteran: British Medical Journal yang terbit pada bulan Februari 2011.
    Vaksin dan bahan yang terkandung di dalamnya (thimerosal) tidak terbukti menyebabkan autisme maupun kerusakan otak. Kejadian autisme biasanya terdiagnosis pada tahun kedua usia bayi dimana pada usia tersebut bayi memang sering divaksinasi. Dan pada pemeriksaan tubuh anak tidak terdapat kenaikan kadar merkuri baik di darah, rambut maupun sel-sel yang lain. Berdasarkan penelitian meta-analisis yang membandingkan anak yang divaksin dengan yang tidak divaksin dihasilkan kejadian autismenya sama di kedua kelompok (pada anak yang tidak divaksin pun ternyata tetap muncul kasus autisme). Oiya, meta analisis itu adalah tingkatan penelitian tertinggi.
    Sumber:

     Q: Benarkah ada merkuri yang berbahaya di dalam vaksin?
    Sebagai orang tua tentu saja kita ingin melindungi anak-anak kita. Kita tidak mau ada bahan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh anak kita. Isu adanya merkuri di dalam vaksin meresahkan banyak pihak. Isu tersebut mengingatkan kita akan kejadian tragedi Minamata dimana keracunan merkuri menimpa warga di Minamata Jepang sehingga muncul penyakit keracunan merkuri pada tahun 1956. Hal ini dikarenakan adanya pabrik kimia yang membuang limbah mengandung metilmerkuri (methylmercury) ke Teluk Minamata pada tahun 1932-1968.
    Didalam kehidupan kita sehari-hari, merkuri dikenal dalam 3 bentuk :
    Logam merkuri (elemental). Biasa ditemui pada termoter tua. Merkuri tipe ini tidak bisa di serap oleh tubuh melalui oral (dimakan) -kemampuan penyerapannya hanya 0.01%- sementara melalui proses inhalasi dapat diserap sampai > 80%.
     Merkuri anorganik. Jenis merkuri ini dapat diserap tubuh secara oral sampai 7 - 15 %, bentuk senyawa merkuri ini biasa ditemukan pada batrei.
     Merkuri organik (methylmercury fungisida, fenil merkuri, ethylmercury). Jenis merkuri ini mampu diserap tubuh melalui proses oral sampai 90%.
    Merkuri disebut juga hydrargyrum atau air perak karena sifatnya yang cair seperti air dan berkilau seperti perak. Jangan kan pada vaksin, ternyata logam berat merkuri banyak ditemukan di alam ini bahkan pada bahan makanan. Merkuri banyak kita temui di alam, sebagai mineral di bebatuan, dalam tanah, air, bahan bakar fosil seperti batubara, sumber mata air panas dan letusan gunung berapi. Merkuri organik ini juga bisa berasal dari merkuri anorganik yang dimetabolisme oleh mikroorganisme yang hidup dalam air menjadi merkuri organik.
    Merkuri organik yang sering ditemukan di alam adalah metilmerkuri, merkuri yang sama yang menyebabkan tragedi penyakit Minamata. Ikan dan kerang-kerangan memiliki kemampuan untuk menyimpan merkuri di dalam tubuhnya, dan memiliki sifat biomagnifikasi yaitu konsentrasi makin besar di tingkat piramida makanan yang makin tinggi artinya pemangsa memiliki konsentrasi merkuri lebih tinggi dibandingkan yang dimangsa. Metilmerkuri terdapat di ikan catfish, grouper, makarel, sarden, hiu, tuna, kerang, tiram, kepiting, lobster dan udang.
    Metilmerkuri ini waktu paruhnya sangat lama yaitu 50 hari di darah dan hingga 120 hari di otak manusia sehingga lama dikeluarkan dari tubuh. Karena metilmerkuri ini lama di dalam tubuh, maka jika kadarnya berlebihan bisa memasuki jaringan otak bahkan plasenta dan akan merusak otak bayi. Metilmerkuri bahkan ditemukan di air susu ibu (ASI) saat ibu mengkonsumsi bahan yang mengandung metilmerkuri.
    Merkuri memiliki efek antibakterial (antiseptik) dan antijamur sehingga banyak digunakan sebagai preservative dalam berbagai produk baik medis maupun non-medis seperti kosmetik. Zat yang biasa digunakan adalah thimerosal atau thiomerosal. Thimerosal dimetabolisme menjadi 46,9% merkuri organik yang berupa etilmerkuri dan thiosalisilat. Etilmerkuri ini waktu paruhnya sangat jauh lebih singkat daripada metilmerkuri yaitu 7 hari akan dikeluarkan dari tubuh.  Penggunaan etilmerkuri dinyatakan tidak berbahaya bagi tubuh. Etilmerkuri menjadi berbahaya, baik untuk dewasa dan anak-anak, apabila kandungannya 1000-1000000 kali lipat dari yang ada di dalam vaksin.
    Beberapa tahun yang lampau berhembus isu thimerosal menyebabkan kerusakan otak pada anak dan autisme. Isu ini sangat meresahkan para orang tua dan menurunkan kepercayaan pada vaksinasi. Akhirnya FDA, EPA dan ATSR melakukan serangkaian penelitian. Dari serangkaian penelitian, FDA memutuskan bahwa thimerosal dinyatakan aman sebagai preservative vaksin. Namun, akhirnya pada tahun 2001 thimerosal sudah tidak digunakan lagi sebagai preservative dalam vaksin untuk anak-anak. Penghilangan thimerosal bukan karena etilmerkuri tidak aman, namun karena menghindari kekhawatiran para orang tua. Hanya vaksin multidosis yang menggunakan thimerosal, yaitu kemasan vaksin yang diambil berkali-kali.
    Jadi, saat ini sebagian besar vaksin untuk anak sudah bebas dari thimerosal atau merkuri. :)
    Sumber:


    Q: Apakah bahan vaksin berasal dari nanah?
    Nanah? Membayangkan nanah yang ada di jerawat saja saya jijik apalagi membayangkan zat tersebut disuntikkan ke dalam tubuh bayi saya. Isu ini terkait dengan sejarah pembuatan vaksin.

    Sebelumnya perlu dipahami bahwa produksi vaksin itu adalah produksi dalam jumlah sangat banyak di skala industri modern yang besar. Sehingga ketersediaan bahan untuk membuat vaksin harus selalu terjamin kualitas maupun kuantitasnya, berbeda dengan mbok jamu yang tiap kali mau memproduksi jamu godhong kates (daun pepaya) beliau pergi ke kebun lalu memetik daun pepaya segar setiap hari untuk ditumbuk menjadi jamu.
    Pada tahun 1718, Lady Mary Wortley Montague seorang bangsawan Inggris melihat kebiasaan bangsa Turki Othmany melakukan inokulasi, yaitu mengambil cairan nanah dari penyakit cacar dengan gejala ringan (smallpox) ke anak yang sehat. Kebiasaan itu terbukti melindungi anak-anak dari penyakit cacar (smallpox/variola) yang sangat menular dan mematikan. Lady Mary kemudian melakukan hal tersebut kepada kedua anaknya.
    Pada tahun 1796, seorang dokter di pedesaan Inggris mengamati bahwa para pekerja yang terpapar dengan cacar sapi (cowpox) terlihat kebal terhadap serangan cacar (smallpox/variola). Akhirnya dokter tersebut, Edward Jenner, mencoba mengambil cairan nanah dari cacar sapi (cowpox) dan menginokulasikannya ke seorang anak laki-laki sehat berusia 8 tahun, James Phillips, dan berhasil menciptakan kekebalan terhadap infeksi cacar variola. Oleh sebab itu vaccination berasal dari kata vacca yang artinya sapi, karena vaksinasi pertama kali dilakukan dengan mengambil virus yang menginfeksi sapi untuk membentuk kekebalan terhadap smallpox.
    Itu kejadian lebih dari 200 tahun yang lalu, memang benar berasal dari nanah sapi. Namun, untuk masa sekarang ini, teknologi kedokteran sudah sangat berkembang dengan pesat sehingga virus dan bakteri yang digunakan untuk vaksinasi bukan diambil dari nanah lagi. Pembuatan vaksin itu adalah industri skala besar jadi ketersediaan bahan harus terjaga konsistensi jumlah dan kualitasnya. Tidak seperti orang menanam padi yang tiap 3 bulan panen, apa iya perusahaan vaksin mau memelihara orang sakit cacar sehingga tiap hari mau dipanen nanahnya? Jelas tidak mungkin, karena orang sakit cacar juga tidak tiap hari ada. Oleh sebab itu, virus dan bakterinya dipelihara di laboratorium untuk dijaga kualitas dan jumlahnya sehingga produksi vaksin skala besar bisa dilakukan setiap saat selama vaksin tersebut masih dibutuhkan.

     Sumber:

    Q: Apakah vaksin terbuat dari janin? Apakah vaksin terbuat dari ginjal kera? Apakah vaksin terbuat dari babi dan anjing?
    Penggunaan vaksin “dari janin” ini biasanya menuai kontroversi di umat Katholik. Namun, siapa pun pasti ngeri plus jijik jika mendapat informasi vaksin terbuat dari janin, kera, babi dan anjing.

    Serupa dengan keterangan di atas, perlu dipahami bahwa produksi vaksin itu adalah produksi dalam jumlah sangat banyak di skala industri modern yang besar. Sehingga ketersediaan bahan untuk membuat vaksin harus selalu terjamin kualitas maupun kuantitasnya, berbeda dengan mbok jamu yang tiap kali mau memproduksi jamu godhong kates (daun pepaya) beliau pergi ke kebun lalu memetik daun pepaya segar setiap hari untuk ditumbuk menjadi jamu.
    Isu ini muncul berkaitan dengan sejarah penemuan media yang digunakan untuk pengembangbiakan virus dan bakteri yang akan  digunakan dalam vaksin. Media tumbuh ini ibarat “tanah” bagi pohon kelapa. Namun, virus dan bakteri sayangnya berbeda dengan pohon kelapa yang bisa tumbuh di tanah manapun, mulai dari daerah pantai hingga puncak gunung yang gersang.
    Pada era modern saat ini, bakteri bisa ditumbuhkan dan dipelihara di lingkungan laboratorium tanpa memerlukan media hewani, jadi tinggal diberi zat makanannya dan lingkungan yang nyaman bagi bakteri itu. Namun, berbeda dengan bakteri, virus memerlukan media khusus, yaitu sel seperti sel-sel embrio di telur ayam. Sel yang bisa digunakan untuk menumbuhkembangkan virus pun adalah sel khusus yang terjaga kemurniannya di laboratorium dengan teknologi kultur jaringan, yaitu strain cell atau cell line.
    Strain cell berupa cell line ini tidak mudah diperoleh, para ilmuwan di laboratorium senantiasa bereksperimen dengan penuh ketelitian di bawah pengawasan Komite Etik untuk menjaga agar penelitian tetap berjalan sesuai hukum dan koridor keilmuan yang etis. Strain cell ini dikondisikan untuk mendapatkan satu jenis sel tunggal yang abadi dan selalu berkembangbiak yang disebut cell line. Karena untuk membuat vaksin skala industri dibutuhkan media sel yang murni, berjumlah sangat besar dengan konsistensi sifat yang sangat terjaga. Cell line ini asalnya bermacam-macam dan memang ada yang berasal dari tikus, mencit, kelinci, sel kanker, janin manusia, kera, anjing dan lain-lain.
    Alkisah, ilmuwan mencoba untuk membiakkan virus di berbagai media sel. Pada tahun 1936 Albert Sabin dan Peter Olitsky membiakkan sel otak yang berasal dari janin manusia yang sudah keguguran untuk membuat vaksin polio. Kemudian pada tahun 1951, Jonas Salk berhasil membiakkan sel dari ginjal kera (Vero cell line) untuk vaksin polio. Hingga kini sel Vero ini dipelihara dan dikembangbiakkan untuk memproduksi vaksin polio, variola, rotavirus dan japanese encephalitis. Pada tahun 1958 juga dikembangkan sel Madin Darby Canine Kidney (MDCK) yang diambil dari ginjal anjing cocker spanyol.
    Virus memerlukan sel tertentu untuk hidup, virus manusia membutuhkan media sel manusia. Sel manusia ini bisa berasal dari sel kanker (contoh: Hela cell line berasal dari sel kanker seorang pasien wanita Henrietta Lacks) atau sel janin yang sebelumnya telah meninggal di rahim sang ibu. Janin yang meninggal di rahim memang harus dikuret, sebab jika tidak dia akan menjadi racun bagi rahim dan ibunya. Dengan persetujuan keluarga serta di bawah pengawasan Komite Etik para ilmuwan melakukan percobaan kultur jaringan dari sel-sel janin yang telah dikuret itu. Sel-sel ini disemai di media khusus di laboratorium sehingga diperoleh sel abadi, yang selalu membelah diri, tidak bisa mati dan terjaga konsistensi sifatnya.
    Berbeda dengan sel-sel kanker, sel diploid janin manusia memiliki jumlah kromosom yang sama seperti sel-sel normal manusia. Pada tahun 1960-an rubella kongenital yaitu infeksi virus rubella pada wanita hamil menyebabkan banyak janin yang mati dalam kandungan. Pada tahun 1961 di Amerika Serikat, ada janin perempuan berumur 3 bulan yang diserang oleh virus rubella, janin ini kemudian meninggal di rahim ibunya. Janin kemudian dikuret dan atas persetujuan semua pihak digunakan untuk mengetahui rubella kongenital dan mendapatkan cell line yang tepat untuk media virus rubella. Dari sel-sel di paru-paru janin diperoleh strain cell WI-38 yang sangat cocok untuk mengembangbiakkan rubella. Sementara itu pada tahun 1965, di Inggris juga diperoleh strain cell WRC-5 dari paru-paru janin laki-laki berusia 14 minggu yang meninggal di rahim akibat rubella kongenital. Dari kedua strain cell ini, WI-38 dan WRC-5, berhasil dibuat vaksin rubella dengan tingkat efektifitas 95% untuk mencegah kematian dan kecacatan janin akibat rubella kongenital. Strain cell ini juga digunakan untuk membuat vaksin hepatitis A, varicella, zoster, rabies dan adenovirus.
    Hingga saat ini saya tidak menemukan adanya vaksin yang dibuat dari SEL babi atau DNA babi.
    Jadi, yang saat ini digunakan untuk membuat vaksin di pabrik vaksin adalah sel vero, sel MDCK, sel WI-38 dan MRC-5 ini. Bukan janin-janin atau kera-kera atau anjing-anjing dibunuh setiap hari untuk membuat vaksin. Dan, usia sel-sel inipun sudah jauh lebih tua daripada saya, usia mereka sudah 40 tahun lebih dan mereka hidup terjaga kemurniannya di laboratorium. Pihak gereja Katholik pun akhirnya memberikan ijin atas penggunaan vaksin-vaksin ini. Kabar baiknya saat ini Biofarma berhasil mengembangkan media dari sel tumbuhan jagung, sehingga kita tidak perlu khawatir lagi.
    Sumber:

     Q: Apakah vaksin menyebabkan kanker?
    Sebagai manusia saat kita mendengar kata “kanker” tentu saja takut ya, karena langsung terbayang penyakit yang berat.
    Kanker telah lama dikenal dalam sejarah manusia. Kanker payudara telah tercatat di lembaran papirus bangsa Mesir pada tahun 3000 SM. Hippocrates yang hidup pada tahun 460 – 370 SM juga telah menjelaskan tentang penyakit ini. Celcus, ilmuwan Yunani, yang hidup antara tahun 25 SM – 50 M juga telah membuat catatan tentang kanker. Istilah kanker sendiri berasal dari bahasa Yunani yang artinya kepiting. Insidensi (kejadian) kanker sendiri meningkat semakin banyak pada tahun 1930 – 1990. Kematian dengan penyebab kanker yang cukup banyak ini akhirnya mulai dicatat secara khusus oleh biro statistika Amerika Serikat pada tahun 1930.
    Vaksinasi sendiri baru digalakkan oleh WHO pada 1 Januari 1967 untuk menanggulangi wabah cacar variola (smallpox) yang menyebabkan kematian 35% penderita cacar variola dan sisanya buta atau mengalami kerusakan kulit yang sangat parah. Nah, sangatlah tidak mungkin vaksinasi menyebabkan kanker karena kanker sudah banyak bermunculan ribuan tahun sebelum program vaksinasi digalakkan di dunia.
    Kanker sendiri penyebabnya ada dua, yaitu genetik (faktor bawaan) dan lingkungan. Faktor lingkungan sendiri salah satunya adalah infeksi. Justru vaksinasi terbukti bisa menyelamatkan dari kanker, seperti vaksinasi hepatitis B sesaat setelah bayi baru lahir akan mencegah terjadinya kanker hati saat bayi dewasa. Infeksi virus hepatitis B yang diderita sejak bayi 90% akan mengakibatkan hepatitis kronis yang merupakan penyebab terjadinya sirosis. Sebanyak 50% kasus sirosis akan berkembang menjadi kanker ganas pada liver.
    Pada tahun 2012, di depan konferensi asosiasi peneliti kanker Amerika dipresentasikan makalah yang sangat menarik tentang pemberian vaksin pada anak dengan kanker otak ganas membantu anak memberikan respons bagus terhadap perbaikan penyakitnya. Sel imun anak yang mendapat vaksin tampak bereaksi sangat baik terhadap sel kanker di otak. Hal ini tentu saja sangat bertentangan dengan isu yang mengatakan vaksin mengakibatkan kanker, karena justru yang terjadi adalah vaksin membantu sel imun memusnahkan sel kanker.
    Sumber:
    Kumar et al. 2008. Robbins Basic Pathology, 8th edition. Philadelphia: Saunders Elsevier
    Fauci et al. 2008. Harrisons: Principples of Internal Medicine, 17th edition. McGraw-Hills companies
    Goldman et al. 2007. Cecil Medicine, 23th Edition. Philadelphia: Saunders Elsevier
    Casiato, Dennis A. 2004. Manual of Clinical Oncology, 5th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.

     Q: Benarkah vaksin menyebabkan HIV?
    HIV adalah penyakit yang snagat mengerikan. Pada tahun 1981 saat pertama kali ditemukan penyakit HIV AIDS pada kaum homoseksual kemudian pecandu penyalahgunaan obat, orang bertanya-tanya darimanakah asal penyakit yang mengerikan ini. Banyak isu spekulatif seputaran penyakit ini dan pada tahun 1990-an salah satu yang dicurigai adalah vaksin polio oral sebagai penyebar penyakit ini. Pada tahun 1950-an para ilmuwan mengembangkan teknologi kultur jaringan untuk memperoleh media pertumbuhan virus. Salah satunya dr. Hilary Koprowski yang mengembangkan cell line berasal dari kera macaque. Cell line tersebut diduga tercemar oleh virus SIV (simian immunodeficiency virus) yaitu virus menyerang simpanse.
    Pada tahun 1992 majalah The Rolling Stone menampilkan artikel yang mendiskusikan kemungkinan vaksin polio Koprowski sebagai sumber penyebaran HIV yang akhirnya mengakibatkan munculnya AIDS. Dokter Koprowski menggugat The Rolling Stone dan si penulis artikel sehingga pada December 1993, majalah The Rolling Stone membuat permintaan maaf dan klarifikasi atas pemberitaan tidak benar yang mencemarkan nama dokter Koprowski.
    Artikel tersebut bermula dari seorang jurnalis yang bernama Edward Hooper menulis sebuah buku yang berjudul “The River: A Journey to the Source of HIV and AIDS” pada tahun 1999. Hooper menuduh bahwa cell line yang digunakan untuk pengembangan vaksin polio itu berasal dari sel ginjal simpanse yang terinfeksi SIV. Untuk meredam kehebohan yang terjadi, dilakukanlah penyelidikan yang mendalam dan hasilnya dibuktikan bahwa teori Hooper ini tidak benar:
    *Dilakukan pemeriksaan terhadap sisa vaksin yang digunakan dan tidak terbukti adanya kontaminasi virus SIV pada vaksin.
    *Cell line yang digunakan untuk memproduksi vaksin berasal dari kera, bukan simpanse. Spesiesnya asal cell line-nya saja jelas berbeda. Setiap virus memiliki sel target yang spesifik. Beda spesies berbeda jenis selnya sehingga si virus SIV tidak bisa menginfeksi sel tersebut.
    *Strain virus SIV ini secara genetika sangat berbeda dengan strain virus HIV yang terdapat di daerah tersebut.

    Tulisan Hooper ini menyebabkan maraknya teori konspirasi terkait HIV dan vaksin polio, terutama di Afrika. Isu adanya virus HIV dan obat yang mengakibatkan steril pada vaksin polio menyebabkan banyak yang menolak vaksinasi polio di Afrika. Akibatnya kejadian polio di Afrika tetap tinggi.
    Ada 2 jenis virus HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2, yang paling banyak ditemui di seluruh dunia adalah virus HIV-1. Virus HIV-2 banyak ditemukan di Afrika. Virus HIV ini memang diperkirakan berkembang dari virus yang dahulunya menginfeksi simpanse (cross-species infection). Kemungkinan terjadinya infeksi silang antar-spesies karena telah terjadi kontak langsung antara manusia dengan simpanse yang terinfeksi yang menghasilkan mutasi genetik munculnya virus HIV.

    Sumber:
    Fauci et al. 2008. Harrisons: Principples of Internal Medicine, 17th edition. McGraw-Hills companies
    Brooks et al. 2007. Jawetz, Melnick & Adelberg Medical Microbiology. 24th edition. McGraw-Hills companies.
    Fields et al. 2001. Field’s Virology. 4th edition. Lippincott Williams & Wilkins.

    Q: Benarkah vaksin adalah konspirasi Yahudi untuk melumpuhkan generasi lain? Benarkah vaksin digunakan sebagai senjata biologis pemusnahan massal?
    Sejak WHO mencanangkan program imunisasi untuk eradikasi penyakit infeksi berbahaya hampir semua negara mewajibkan imunisasi untuk semua bayi yang lahir di daerahnya. Ada 194 negara yang memiliki program imunisasi. Beberapa negara menggunakan kelengkapan jadwal imunisasi sebagai persyaratan masuk sekolah. Di Arab Saudi dan beberapa negara timur tengah kelengkapan imunisasi dijadikan syarat untuk bersekolah dan mengambil akta kelahiran.
    Program imunisasi wajib di masing-masing negara berbeda bergantung pada sebaran penyakit yang ada. Di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat, vaksin BCG tidak ada karena mereka telah berhasil mengeradikasi TBC sebelum arus globalisasi meningkat seperti dewasa ini. Di Belanda memang aturan diperlonggar dengan alasan menghormati hak asasi para penganut anti-vaksin. Di Inggris jika anak yang tidak divaksinasi sakit dan menularkan penyakit ke teman-teman mereka di sekolah maka orang tua si anak akan dipenjara.
    Lalu apa kabar negara yahudi Israel yang sering dituduh makar vaksinasi? Israel memiliki program vaksinasi yang sangat lengkap dan berhasil dengan angka cakupan sangat tinggi untuk bayi baru lahir hingga anak usia 13 tahun. Dari artikel yang dibuat oleh Kementrian Kesehatan dan dirilis di jurnal ini diperoleh data cakupan imunisasi di israel > 90% semua, yaitu sebagai berikut DTaP-IPV-Hib4 (all 93%), HBV3 (96%), MMR1 (94%), and HAV1 (90%). Sebanyak 93% bayi mendapat vaksin difteri, tetanus, pertusis, polio dan hemofilus influenzae B; sebanyak 96% bayi mendapat vaksin hepatitis B; sebanyak 94% bayi mendapat vaksin campak, gondongan dan rubella; dan sebanyak 90% bayi mendapat vaksin hepatitis A. Pada tahun 2009 mereka memulai program vaksinasi pneumokokus, pada tahun 2010 mereka memulai vaksinasi rotavirus dan pada tahun 2011 mereka memulai vaksinasi human papilloma virus untuk anti kanker leher rahim (serviks). Kenapa angkanya tidak 100%? Karena pada bayi dengan penyakit tertentu seperti defisiensi sistem imunitas, kanker atau penyakit darah ada yang sebaiknya vaksinasi ditunda terlebih dahulu.
    Jika vaksin mengandung racun, zat berbahaya dan berpotensi membuat mandul, cacat atau mematikan generasi penerus, maka tidak akan mungkin israel menyediakan program vaksinasi yang super lengkap seperti di atas untuk semua bayi sehat yang lahir di negara tersebut. Kabar baiknya adalah pejuang Muslim Palestina juga memvaksin anak-anaknya agar tumbuh menjadi generasi yang sehat tidak kalah dengan bayi-bayi yahudi di Israel. Muslim Mesir tanah tempat kelahiran pejuang-pejuang tangguh yang berani menolong saudaranya di Gaza juga memiliki vaksin wajib yang ditaati oleh warga negaranya.
    Jika di dalam vaksin terdapat obat kemandulan buktinya yang terjadi di Indonesia, negara-negara berkembang dan dunia jumlah penduduk bertambah dengan pesat.

     Sumber:
    Vaksinasi di israel:

    Q: Apakah vaksin menyebabkan anak lumpuh dan meninggal setelah divaksin?
    KIPI adalah kejadian ikutan pasca imunisasi. Biasanya setelah diimunisasi bisa timbul demam, kemerahan atau bengkak di tempat penyuntikan, rewel, dan lain sebagainya sesuai jenis vaksin. Sebagian besar keluhan ini akan menghilang 3 – 4 hari pasca imunisasi. Semua KIPI memang sebaiknya dilaporkan untuk kepentingan surveilans imunisasi.
    KIPI berat seperti lumpuh setelah diimunisasi atau meninggal setelah diimunisasi akan diselidiki dengan sangat serius oleh dinas kesehatan dan pihak yang berwajib dengan melibatkan banyak ahli seperti ahli forensik, ahli darah, ahli bedah, ahli anak, ahli penyakit dalam, ahli vaksin, ahli hukum, kepolisian dan banyak ahli lainnya. Tenaga kesehatan yang terlibat juga dikenai status tahanan rumah atau kota. Kasus ini biasanya akan mencuat di media massa yang tentu saja dengan pemberitaan yang tidak seimbang, selalu pihak pemerintah yang disudutkan. Sangat sering kasus yang ada tidak disertai dengan pemberitaan klarifikasi dari dinas kesehatan terkait.
    Contoh kasus berikut ini, bayi A meninggal sehari setelah vaksin BCG, setelah diselidiki ternyata bayi sudah sakit infeksi berat sebelumnya dan meninggal akibat sepsis (keracunan darah), tapi jika membaca beritanya memang sangat berat sebelah. Kisah lain, yaitu SB yang lumpuh setelah divaksin polio setelah disidang di Polda Metro Jaya lalu diselidiki ternyata SB ini adalah penderita TBC tulang belakang yang sudah berat. Di Jawa Barat anak lumpuh karena polio setelah diselidiki ternyata dia terkena virus polio liar, bukan virus polio dari vaksin. Sebagian besar kasus KIPI yang dilaporkan bisa ditangani secara tuntas, hanya saja masyarakat tidak mengikuti kasus hingga akhir. Jika ada yang tidak ditangani, maka kemungkinan besar karena kasus tidak dilaporkan.
    Kasus KIPI perlu diselidiki apakah itu disebabkan karena vaksinasi atau coincidental. Concidental ini adalah berbarengan ditakdirkan muncul bersamaan dengan vaksinasi, seperti contoh ketiga kasus di atas yang seteah diselidiki ternyata penyebabnya adalah karena penyakit lain. Jika karena vaksinasi, maka akan diselidiki apakah karena kesalahan dalam vaksin (vaccine error), kesalahan pelaksanaan imunisasi (programme error), atau reaksi terkait penyuntikan.

    Semua kasus KIPI akan mendapatkan penanganan dan kompensasi dari pemerintah, orang tua bisa menuntut negara atas kejadian ini. KIPI vaksin polio oral yang paling berat adalah kelumpuhan (paralisis), kejadiannya 1 : 2,5 juta – 3 juta dosis. Kasus ini biasanya terjadi pada anak dengan penyakit kelainan darah dan gangguan berupa kelemahan imunitas tubuh. Adalah John Salamone, seorang orang tua yang luar biasa dari seorang anak yang terkena KIPI vaksin polio oral. Anaknya mengalami sindroma paralisis setelah mendapat vaksin polio, namun alih-alih memilih menjadi aktivis gerakan antivaksin beliau lebih memilih untuk mendorong pemerintah (American Academy of Pediatrics dan the CDC) untuk mengganti vaksin polio oral dengan vaksin polio injeksi. Dan beliau berhasil, pada tahun 1996 pemerintah Amerika mengganti vaksin polio dengan jenis lain yang lebih aman meskipun itu berarti pemerintah mengeluarkan anggaran yang lebih besar untuk vaksin ini. Sebab John menyadari bahwa vaksin polio ini penting dan perlu, apalagi virus poliomyelitis belum musnah (eradikasi). Jika terjadi wabah polio kemungkinan lumpuh adalah 1:100 penderita dan tidak milih-milih mau anak yang semula sehat atau yang immunocompromaise (sistem imunnya lemah).
    Kejadian KIPI yang berbahaya ini relatif sedikit, dan tidak ada orang yang menginginkannya. Apalagi pihak tenaga kesehatan, jika sampai terjadi KIPI berat mereka juga akan diusut oleh pihak berwajib. Dibandingkan resiko tingkat kecacatan, biaya perawatan dan kematian yang tinggi akibat penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin maka sebaiknya tetap melakukan vaksinasi yang merupakan salah satu ikhtiar terbaik untuk menghindari penyakit tersebut.
    Sumber:

     Q: Benarkah vaksin akan merusak sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit?
    Isu ini berkembang akibat adanya suntikan vaksin combo, yaitu dalam 1 suntikan terdapat > 2 jenis antigen (vaksin).
    Beberapa pihak menantang untuk diadakan penelitian yang membandingkan kualitas anak yang divaksin dengan anak yang tidak divaksin. Jika ada dua kelompok anak (divaksin vs tidak divaksin) kemudian ditempatkan di ruangan dengan penyakit polio, TBC, pertusis, difteri, campak, dan lainnya, hal ini tidak etis karena menempatkan posisi anak yang tidak memiliki kekebalan tubuh dalam zona bahaya. Penelitian semacam ini tidak akan pernah lolos mendapatkan ijin dari Komite Etik. Setiap penelitian yang dilakukan seorang akademisi itu wajib dibawah koridor etika keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan dan diawasi oleh Komite Etik yang terdiri dari para ahli.
    Namun, ada penelitian yang menarik yang dilakukan di Jerman yang membandingkan kualitas kesehatan anak yang mendapat vaksin dengan anak yang tidak divaksin dengan sampel penelitian 13.453 anak. Penelitian ini diterbitkan di jurnal Deutsches Ärzteblatt International | Dtsch Arztebl Int 2011; 108(7): 99–104. Hasilnya? Ternyata penyakit infeksi yang tidak spesifik seperti batuk pilek dan penyakit alergi kejadiannya sama pada kedua kelompok. Pada kelompok anak yang tidak divaksin terdapat kejadian penyakit infeksi tidak spesifik dan penyakit alergi.
    Vaksin adalah ikhtiar untuk membentuk kekebalan spesifik seperti vaksin polio untuk penyakit polio. Pada penelitian tersebut hasilnya ternyata mendukung keamanan vaksin karena anak-anak yang tidak divaksin tiga kali lebih banyak menderita penyakit campak, gondongan, rubella dan pertusis dibandingan anak yang divaksin. Sebagai informasi di Jerman sudah tidak pernah ditemukan kasus lokal TBC dan polio.
    Jadi, isu bahwa vaksin merusak sistem kekebalan tubuh sehingga anak mudah sakit itu tidak benar, karena pada anak yang tidak mendapat vaksin pun juga dijumpai kasus infeksi tidak spesifik seperti batuk pilek dan serta penyakit alergi.

    Sumber:

    Q: Jangan dengarkan nasehat dokter, mereka dibayar sama pabrik vaksin! Benarkah?
    Program vaksinasi yang berhasil adalah vaksinasi cacar variola (smallpox). Penyakit ini sangat menular. Penularan penyakit melalui udara pernafasan, jadi tidak perlu bersentuhan dengan penderita sudah bisa tertular. Jika sampai sakit, efek yang paling ringan adalah wajah menjadi buruk rupa permanen; efek moderat adalah hidup dengan wajah buruk rupa + buta; dan sebanyak 30 - 35% penderita variola langsung meninggal dunia.
    Hidup di jaman serba susah seperti ini segalanya memang seolah-olah berkiblat pada uang. Memang budaya neokapitalisme telah menjamur berurat berakar dimana-mana, termasuk di fasilitas kesehatan. Bisnis kesehatan adalah bisnis dengan omzet yang besar. Mari kita berhitung, lebih menguntungkan mana sih dokter mau capek-capek sosialisasi pentingnya vaksinasi agar penyakit musnah (eradikasi) seperti smallpox atau merawat pasien yang sakit macam difteri, pertusis, campak, tetanus, TBC, meningitis, polio itu?
    Jika dokter berdagang vaksin paling keuntungannya hanya beberapa puluh ribu hingga ratusan ribu. Jika dapat pasien difteri, pertusis, campak dan lainnya kira-kira untung berapa ya? Pasien ini adalah kategori pasien sangat menular sehingga harus dirawat di ruang khusus, dengan barang-barang sekali pakai termasuk kasur, bantal, selimut; dengan perawat khusus, belum lagi obat-obatan dan diet khusus. Pasien difteri atau pertusis biasanya dirawat selama 2 minggu. Biaya perawatan sehari bisa mencapai minimal 2 juta, jadi 2 juta x 14 hari = 28 juta! Pernah ada pasien difteri sehari habis 2,5 juta dan dirawat 2 minggu. Dokter dan nakes yang merawat pasien infeksius seperti di balai pengobatan penyakit paru atau rumah sakit khusus infeksi biasanya mendapatkan komisi tambahan sebagai pengganti risiko tertular.
    Pasien tetanus dan meningitis biasanya dirawat di Intensive Care Unit. Dulu bayi saya waktu lahir kakinya agak kebiruan sehingga dirawat di NICU. Di NICU bayar 3 juta/hari, itupun Alhamdu lillah bayi saya hanya nebeng pake oksigen. Nah, pasien tetanus dan meningitis bisa lebih dari 1 bulan perawatannya, obat-obatan yang digunakan luar biasa mahal. Jika sembuh dalam 1 bulan saja, maka 3 juta x 30 hari = 90 juta!
    Pasien polio lebih parah lagi, selain di rawat secara intensive di ruang isolasi mereka harus rajin fisioterapi agar kelumpuhan yang di derita tidak begitu parah dan kaki mereka tidak bengkok. Asumsi perawatan seperti pasien difteri 2 juta x 14 hari = 28 juta ditambah biaya fisioterapi rutin yang sekali fisioterapi 100 ribu minimal 1 kali seminggu dan pembelian peralatan fisioterapi hingga 1 tahun, berapa kira-kira dana yang diberikan ke rumah sakit?
    Pasien hepatitis B jika sampai terjadi hepatitis kronis harus konsumsi obat secara rutin hingga DNA virus hepatitis B menurun, 1 butir obatnya jaman saya masih sekolah dulu harganya 200 ribu. Jika terkena sirosis seperti pak mentri harus cangkok liver di China konon membutuhkan dana 2 milyar. Jika terkena kanker hati, kemungkinan tertolong kecil karena hepatocellular carcinoma ini sangat ganas. Kanker hati akibat bayi terlahir dari ibu yang positif hepatitis B biasanya akan muncul saat anak berusia 20-an tahun.
    Untuk pabrik vaksin? Jika program vaksinasi berhasil seperti program vaksinasi smallpox dari tahun 1967 – 1979 menghasilkan smallpox yang musnah (eradikasi), vaksin smallpox tidak dibutuhkan lagi jadi perusahaan vaksin gulung tikar. Untuk saat ini wabah polio, difteri, campak, pertusis muncul lagi akibat aksi menolak vaksinasi yang marak di beberapa daerah. Jadi bisa dipastikan perusahaan vaksin akan tetap berproduksi hingga 20 tahun ke depan. Jika terjadi wabah seperti polio di Jawa Barat tahun 2005 kemarin dan tetanus saat gempa Jogja yang lalu perusahaan vaksin kembali banjir order untuk vaksinasi tambahan, maka semakin banyak penyakit semakin untung bagi pabrik vaksin. Tapi, jika penyakit musnah maka vaksin tidak diproduksi lagi sehingga perusahaan rugi besar.
    Jadi, bagi perusahaan vaksin dan dokter kira-kira lebih untung yang mana ya?

    Q: Buat apa vaksinasi, toh wabah sudah tidak pernah terjadi lagi
    Wabah sudah ada dari jaman dahulu, pada masa Rosululloh pun juga terjadi wabah oleh karena itu ada hadits berkenaan dengan  wabah dan penyakit menular. Sahabat agung Abu Ubaidah ibnul jarrah, meninggal karena wabah tha'un di syam. Beliau kita yakin pasti menjaga diri, baik makanan yang tahyyib dan halal, zaman itu belum ada MSG dan pengawet dan amalnya insyaAllah baik karena beliau adalah "amin hadzihil ummah"/ kepercayaan umat ini dan telah di jamin masuk surga.


    Vaksinasi, sebagaimana teknologi buatan manusia lainnya, memang tidak 100% aman dan 100% efektif. Namun hingga saat ini vaksinasi adalah teknologi di dunia kesehatan yang terbaik sebagai ikhtiar untuk memusnahkan (eradikasi) penyakit infeksi.
    Fungsi vaksinasi untuk individu adalah membentuk sel memori spesifik (polio ya untuk polio) yang berumur panjang. Sel memori ini fungsinya sebagai provokator, jika suatu saat ada musuh masuk dia akan memprovokatori kerja sistem imun dan membentuk antibodi dalam waktu jauh lebih cepat daripada anak yang tidak memiliki sel memori. Kebetulan musuh-musuhnya itu jenis kuman yang ganas, yang jika tidak segera ada antibodi mereka akan memporakporandakan tubuh. Saat kita beri sel memori melalui vaksinasi ibaratnya kita bekali anak kita yang mau maju perang dengan detektor musuh dan rudal jelajah, tentu saat perang akan lebih menang daripada anak yang telanjang tangan (tidak bersenjata-red). Jadi saat wabah datang anak yang divaksinasi lengkap sesuai jadwal dan booster biasanya akan tidak sakit, jika sakit pun hanya gejala ringan.
    Fungsi vaksinasi untuk masyarakat adalah membentuk kekebalan komunitas (herd immunity) dan pemusnahan kuman (eradikasi). Cacar variola dinyatakan musnah pada tahun 1980 karena 67% penduduk di seluruh dunia mau divaksin variola. Vaksinasi bukanlah teknologi dengan jaminan 100%, oleh sebab itu, cakupan vaksinasi diharapkan > 90% artinya harus lebih 90% warga mau divaksin agar tercapai kekebalan komunitas sehingga penyakit bisa musnah (eradikasi).
    Benarkah saat ini wabah sudah tidak ada? Karena banyaknya provokasi isu menakutkan tentang vaksinasi, banyak orang memutuskan untuk tidak memvaksin anak-anaknya sehingga herd immunity rusak. Saat ini banyak wabah kembali bermunculan. Bahkan Bordatella pertusis pun bangkit dari kuburnya.
    Pada tahun 2005, sebanyak 302 anak-anak Indonesia yang belum divaksinasi lumpuh akibat terserang virus polio. Selama 10 tahun sebelumnya kasus polio sudah tidak ditemukan lagi di Indonesia, namun kemudian muncul KLB di Jawa Barat.
    Sepanjang tahun 2011 ini jumlah kasus difteri yang terjadi di Jawa Timur ada sekitar 328 orang dan yang meninggal jumlahnya 11 orang. Diduga wabah ini terjadi karena banyak bayi yang tidak mendapatkan imunisasi DPT (difteri, pertusis/batuk rejan dan tetanus). Dari penyelidikan yang terkena adalah anak yang belum divaksinasi dan anak yang divaksin namun tidak lengkap. Jadi karena isu menakutkan terkait vaksinasi banyak orang tua yang tidak meneruskan pemberian vaksin ke anak. Jika vaksinasi tidak lengkap tentu saja perlindungannya pun tidak terbentuk optimal.


    Indonesia terletak di ring of fire (cincin gunung api aktif) dan pertemuan 3 lempeng benua, masih teringat jelas kejadian tsunami Aceh dan gempa Jogja-Jateng lalu. Sistem penanggulangan bencana belum siap untuk mengatasi bencana saat itu. Di Jogja ribuan orang meninggal dan sangat banyak yang terluka seperti kulit dan daging terkoyak atau patah tulang. Saat itu rumah sakit setempat yang juga porak-poranda terkena dampak gempa kehabisan cairan antiseptik dan benang untuk menjahit sehingga pasien terpaksa dijahit menggunakan benang jahit pakaian. Banyak tetanus yang terjadi, terutama kelompok usia lanjut yang belum pernah mendapat vaksin tetanus. Mereka saat itu meninggal bukan karena gempa melainkan karena tetanus pasca terluka akibat gempa. Saat itu guna mencegah perluasan kasus tetanus Menkes mengirim 400.000 vaksin tetanus ke Jogja dan sekitarnya. Begitu sering bencana alam besar melanda negri indah ini, jadi kita sama sekali tidak tahu apa yang terjadi nanti.
    Jangan terkecoh dengan berita-berita menakutkan, dunia semakin tua dan permasalahan jaman semakin pelik. Banyak pihak demi kepentingan pribadi menggunakan kampanye hitam anti-vaksinasi. Gerakan ini mendunia. Kenapa vaksin yang dijadikan kambing hitam? Menurut teori konspirasi ala saya yang maniak komik detektif ini (halah), selama ini timbul persepsi berlebihan di masyarakat bahwa vaksin akan “memberi perlindungan seumur hidup”. Nah, jika vaksin digembar-gemborkan mengandung bahaya bagi kemanusiaan maka otomatis para orang tua akan menolak vaksin. Orang tua akan galau, mereka butuh “sesuatu-pengganti-vaksin” yang akan memberikan perlindungan bagi anak-anak mereka. Kemudian tiba-tiba ada yang muncul menawarkan solusi pake ini, pake itu, beli ini, beli itu, pelatihan begini, pelatihan begitu dan lain sebagainya.
    Kesimpulannya:
    Vaksinasi itu mubah dalam agama Islam dan sangat dianjurkan oleh pemerintah dan WHO.
    Tidak vaksinasi juga boleh.
    Namun, tidak vaksinasi lalu menjadi provokator menakut-nakuti masyarakat awam dengan ilmu yang salah itu yang tidak benar.
    Alhamdu lillah, tuntas sudah kebimbangan kami. Semoga ringkasan yang panjang dari data-data yang telah kami peroleh ini bisa membantu para orang tua yang juga bimbang seperti kami.
    “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” [An-Nisa: 83]
    Tafsir ayat di atas:
    “Ini adalah pengajaran dari Allah kepada Hamba-Nya bahwa perbuatan mereka [menyebarkan berita tidak jelas] tidak selayaknya dilakukan. Selayaknya jika datang kepada mereka suatu perkara yang penting, perkara kemaslahatan umum yang berkaitan dengan keamanan dan ketenangan kaum mukminin, atau berkaitan dengan ketakutan akan musibah pada mereka, agar mencari kepastian dan tidak terburu-buru menyebarkan berita tersebut. Bahkan mengembalikan perkara tersebut kepada Rasulullah dan [pemerintah] yang berwenang mengurusi perkara tersebut yaitu cendikiawan, ilmuwan, peneliti, penasehat, dan pembuat kebijaksanan. Merekalah yang mengetahui berbagai perkara dan mengetahui kemaslahatan dan kebalikannya. Jika mereka melihat bahwa dengan menyebarkannya ada kemaslahatan, kegembiraan, dan kebahagiaan bagi kaum mukminin serta menjaga dari musuh, maka mereka akan menyebarkannya Dan jika mereka melihat tidak ada kemaslahatan [menyebarkannya] atau ada kemaslahatan tetapi madharatnya lebih besar, maka mereka tidak menyebarkannya. [Taisir Karimir Rahman hal. 170, Daru Ibnu Hazm, Beirut, cetakan pertama, 1424 H]
    Allaahu a'lam bish-showwab


    Bolehkah Imunisasi Menggunakan ‘Vaksin Babi’?
     Oleh : Nanung Danar Dono

    Bismillaahirrahmaanirrahiim..

    Bulan November adalah Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Namun, beberapa orang tua merasa bimbang karena beberapa vaksin, seperti: POLIO (mencegah CACAT PERMANEN), ROTAVIRUS (mencegah diare yang bisa berujung pada dehidrasi akut dan kematian), dan MENINGITIS (radang selaput otak, sering berujung pada kematian), masih bersinggungan dengan enzyme tripsin babi dalam proses produksinya.

    Vaksinasi tidak hanya dilakukan di Indonesia, namun juga di berbagai negara besar di dunia. Bahkan, di negara-negara Eropa (terutama Inggris dimana saya tinggal sekarang), Amerika, Australia, Jepang, Israel, dll., vaksinasi ini menjadi program resmi pemerintah negara-negara tsb. Di Inggris, anak yang tidak divaksinasi kesulitan didaftarkan di sekolah-sekolah resmi. Umumnya karena pimpinan sekolah tidak mau dituntut oleh orang tua murid kalau kelak anak yang tidak divaksin tersebut menularkan penyakit-penyakit menular kepada anak mereka. Alasan ini realistis.

    Lalu bagaimana kita sebagai orang tua yang diamanahi Allah dengan buah hati yang cantik dan cerdas? Haruskah mereka kita vaksinasi atau haruskah kita ‘selamatkan’ anak kita dari vaksinasi?

    Ada beberapa hal yang semestinya kita pertimbangkan dalam memutuskan sikap apakah kita akan memvaksinasi anak-anak kita atau tidak.

    Pertama, anak itu adalah amanah Allah kepada kita. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas titipan ini. Oleh sebab itu, kita harus berikan segala yang terbaik buat masa depannya.

    Kedua, Biofarma (sebagai produsen vaksin di Indonesia dan diekspor ke berbagai negara lain) hingga saat tulisan ini dibuat (1 Muharram 1434H; 15 November 2012) memang belum mengajukan permohonan sertifikasi halal. Oleh sebab itu, Biofarma tidak memiliki sertifikat halal. Meski tidak memiliki sertifikat halal, apakah kemudian itu menjadi haram? Kita akan singgung sedikit di bawah. 

    Ketiga, BIAS memang program pemerintah. Namun tentu ada alasan mengapa ini menjadi program pemerintah. Saya pribadi berkeyakinan bahwa alasannya BUKAN untuk menghabiskan dana, namun untuk menyelamatkan generasi muda kita dari kelemahan dan penyakit. Vaksinasi ini adalah upaya nyata utk mencegah wabah penyakit yg memang nyata-nyata ada dan nyata-nyata mengancam kesehatan (bahkan nyawa juga mjd taruhan). Bahkan, gara-gara upaya-upaya yang sangat keji dari aktivis anti-vaksin, beberapa penyakit mewabah kembali, seperti POLIO (cacat PERMANEN; di Jawa Barat), DIFTERI (Jawa Timur; 328 anak MENINGGAL), dll.
    Kasus kematian 328 anak ini tidak main-main. Ini benar-benar meninggal...
    Na'udzubillahi min dzaalika... 

    Keempat, ulama-ulama yg BENAR-BENAR PAHAM Syari'at Islam (tentu jauh lebih paham daripada kita) memberikan fatwa BOLEH-nya (bukan halal) vaksinasi, meski sempat bersinggungan dengan bahan dari babi.
    Di antaranya adalah:
    1. Majelis Tarjih Muhammadiyyah (Madzhab Syafi'iyyah)

    2. Ulama-ulama besar di Timur-Tengah (Madzhab Hambaliyyah)

    Kelima, vaksin hukumnya BOLEH, oleh sebab itu juga diterapkan di negara2 Islam, termasuk Iran, Arab Saudi (iya...benar, Arab Saudi...tempat berkumpulnya para ulama besar dunia), Malaysia, dll.

    Keenam, saya tahu persis banyak HOAX (berita BOHONG di internet) beredar sangat dahsyat, di-copy paste kemana2, seakan2 itu adalah informasi yang benar...
    Tulisan-tulisan berikut penting sebagai tabayyun atas info-info dari orang fasik yang ingin melemahkan umat Islam (QS. Al Hujuraat: 6):

    Ketujuh, apakah benar vaksinasi LUMPUHKAN generasi? Ini benar atau fitnah? Jawabannya ada disini:

    Kedelapan, ada orang fasik yg menulis buku berjudul Imunisasi, Dampak, dan Konspirasi. Mas Fahmi Amhar sudah mengupas tuntas berbagai kesalahan yang ada pada buku tsb.

    Kesembilan, apa sih bahayanya kalau kita menolak vaksinasi buat buah hatikita? Mbak dokter Agnes Tri Harjaningrum (beliau muslimah taat berjilbab) sudah mengupasnya buat kita:

    Kesepuluh, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga berpendapat tentang BOLEH-nya vaksinasi menggunakan bahan yang 'tidak jelas' kehalalannya sbb.:

    Dengan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka kami se keluarga memutuskan untuk melindungi anak-anak kami dari aneka wabah penyakit yang bisa mengancam masa depannya. Apalagi, ulama-ulama besar di dunia yg jelas-jelas paham hukum syar'i sdh memfatwakan bolehnya vaksinasi...

    Allaahu a'lam bish-showwab

    Jazakumullah khairan jaza' : Mas Fahmi Amhar, dokter Agnes Tri Harjaningrum, dokter Annisa Karnadi, Bu Ajeng Kusumaningtyas Pramono, mas dokter ganteng Julian Sunan, dokter Piprim Basarah Yanuarso, dkk.

    Oleh:
    Nanung Danar Dono
    PhD student di College of Medical, Veterinary, and Life Sciences
    University of Glasgow
    Scotland, UK


    Tulisan di sebuah Blog yang kami rekomendasikan untuk dibaca juga :

    Ini ada tulisan di blog yang dibuat oleh pak Zaenuri Hanif, peneliti tanaman yang berrdomisili di Batu tentang vaksinasi dan penyikapannya terhadap gerakan anti vaksin di Indonesia. Beberapa link sama dengan yang sudah ada di kompilasi tulisan dalam dokumen grup ini. Semoga makin melengkapi informasi yang kita butuhkan. Silahkan meluncur ke :

0 comments:

Posting Komentar

Hai.... Terima kasih sudah membaca tulisan saya